Nama Tuanku Imam Bonjol (lahir dengan nama Muhammad Shahab) terpatri sebagai salah satu simbol keberanian terbesar dalam sejarah melawan penjajahan Belanda. Lahir di Bonjol pada 1 Januari 1772 dari pasangan Khatib Bayanuddin dan Hamatun, ulama besar berkharisma ini memimpin jalannya Perang Padri (1803–1838) yang melegenda di ranah Minangkabau. Atas keteguhan perjuangannya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1973.
Penunjukan Harimau Nan Salapan dan Pecahnya Perang Padri
Muhammad Shahab awalnya tidak terlibat sejak awal dalam konflik. Perang Padri bermula dari gerakan kaum ulama (Kaum Padri) yang ingin memurnikan syariat Islam di Kerajaan Pagaruyung. Namun, negosiasi dengan Kaum Adat menemui jalan buntu hingga berujung konflik fisik.Langkah perjuangannya berubah total setelah Tuanku nan Renceh dari Kamang—salah satu pemimpin kelompok Harimau Nan Salapan—menunjuknya sebagai imam atau pemimpin kaum Padri di Bonjol. Sejak saat itulah ia menyandang gelar Tuanku Imam Bonjol.
Pengkhianatan Belanda dan Bersatunya Kaum Adat-PadriMelihat kuatnya perlawanan Kaum Padri, Kaum Adat menandatangani perjanjian dengan Hindia Belanda pada tahun 1821 untuk meminta bantuan militer. Masuknya Belanda justru menyengsarakan rakyat dan membuat perang kian berkecamuk. Belanda yang sempat kewalahan dan kehabisan dana akibat Perang Diponegoro di Jawa, sempat mengajak Imam Bonjol berdamai lewat Perjanjian Masang pada 1824, namun perjanjian itu kemudian dilanggar sendiri oleh Belanda.
Memasuki tahun 1833, sebuah titik balik bersejarah terjadi. Muncul kesadaran dan penyesalan mendalam di kedua belah pihak bahwa mengundang penjajah adalah kesalahan besar. Melalui kompromi luhur yang melahirkan konsensus “Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah”, Kaum Adat dan Kaum Padri akhirnya bersatu bahu-membahu berbalik melawan tentara Belanda.
Jatuhnya Benteng Bonjol dan Pengasingan Terakhir
Pengepungan Benteng Bonjol menjadi salah satu konfrontasi militer paling sengit. Selama enam bulan (Maret–Agustus 1837), Belanda mengerahkan ribuan pasukan gabungan Eropa dan pribumi dari berbagai suku untuk menggempur pertahanan tanah liat tersebut. Meski bertahan dengan gigih, Benteng Bonjol akhirnya jatuh pada 16 Agustus 1837.Demi menyelamatkan pasukannya dan dengan kesepakatan agar putranya, Naali Sutan Chaniago, mendapat posisi, Tuanku Imam Bonjol akhirnya menyerah pada Oktober 1837. Belanda kemudian membuangnya ke Cianjur, dipindahkan ke Ambon, hingga lokasi pengasingan terakhirnya di Lotta, Minahasa, dekat Manado.
Di tanah pengasingan itu, ia menulis sebuah autobiografi dalam bahasa Melayu yang berisi memoar dan penyesalannya atas kekejaman serta kehancuran yang terjadi selama Perang Padri. Sang panglima mengembuskan napas terakhirnya pada 6 November 1864. Kini namanya abadi di ruang publik, mulai dari nama universitas, stadion, hingga melekat di lembaran uang Rp5.000
Sumber: Akun Facebook Nasrul Koto Psu









