Jauh sebelum proklamasi dikumandangkan di Jalan Pegangsaan Timur, seorang putra Minangkabau telah lebih dulu merumuskan mimpi besar bernama “Republik Indonesia”. Ia adalah Ibrahim Datuk Sutan Malaka, atau yang lebih dikenal sebagai Tan Malaka, sosok teka-teki yang hidupnya habis dalam pelarian demi sebuah kemerdekaan.
Majalah Tempo bahkan menjulukinya sebagai “Bapak Republik Indonesia”. Mengapa? Karena lewat karyanya Naar de Republiek Indonesia pada tahun 1925, ia menjadi orang pertama yang secara tertulis mencetuskan konsep negara republik, mendahului pemikiran tokoh-tokoh besar lainnya.
Sang ‘Patjar Merah’ yang Misterius
Tan Malaka adalah maestro penyamaran. Selama 20 tahun masa pengasingannya, ia bergerak bak hantu di antara negara-negara Asia dan Eropa. Ia menggunakan puluhan nama alias dan paspor palsu untuk menghindari kejaran polisi rahasia internasional (Interpol).
Kelincahannya inilah yang menginspirasi lahirnya legenda fiksi “Patjar Merah Indonesia”. Seperti pahlawan dalam novel, ia bisa muncul di Moskow, menghilang di Berlin, lalu tiba-tiba mengorganisir buruh di Canton atau Manila, semua dilakukan demi satu tujuan: meruntuhkan belenggu kolonialisme di tanah airnya.
Madilog: Warisan Intelektual untuk Bangsa
Bagi Tan Malaka, kemerdekaan fisik saja tidak cukup. Bangsa Indonesia harus merdeka secara berpikir. Itulah mengapa ia menulis Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika).
Lewat karya monumental ini, ia menantang bangsa Indonesia untuk meninggalkan cara berpikir mistis dan beralih ke pola pikir rasional yang berbasis bukti (fakta). Ia ingin rakyatnya menjadi bangsa yang cerdas, kritis, dan tidak mudah dibodohi oleh bangsa asing.
Akhir Sunyi Sang Pejuang Sejati
Tragisnya, perjalanan sang “Bakar Republik” ini berakhir di ujung peluru bangsanya sendiri. Di tengah kecamuk Revolusi Nasional pada 21 Februari 1949, Tan Malaka dieksekusi di kaki Gunung Wilis, Kediri.
Kematiannya sempat menjadi misteri selama puluhan tahun. Namun, sejarah tidak bisa menghapus jejak orang besar. Melalui Keputusan Presiden No. 53 Tahun 1963, Presiden Soekarno menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional, sebuah pengakuan abadi bagi sang gerilyawan yang mencintai negerinya lebih dari nyawanya sendiri.
Kisah Tan Malaka adalah pengingat bahwa di balik megahnya sebuah negara, ada pengorbanan sunyi dari mereka yang memilih jalan terjal demi kebebasan kita hari ini.
Sumber : Artikel ini dikutip dari akun facebook Nasrul Koto Psu.









