Dalam catatan sejarah Nusantara, tak banyak pemimpin yang mampu menyandingkan kekuatan militer yang ditakuti dengan kemajuan peradaban yang luhur. Namun, Sultan Iskandar Muda (1583–1636) membuktikan bahwa di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Aceh Darussalam bukan sekadar kerajaan regional, melainkan imperium global yang disegani dunia.
Memerintah sejak tahun 1607 hingga 1636, Iskandar Muda membawa Aceh mencapai puncak terluasnya. Namanya yang secara harfiah berarti “Alexander Muda” sering kali disejajarkan dengan penakluk legendaris Alexander Agung karena keberhasilannya mendominasi kepulauan Indonesia bagian barat dan Selat Malaka.
Dua Aliran dalam Satu Darah
Iskandar Muda lahir dari persatuan dua klan penguasa Aceh: Darul-Kamal dan Makota Alam. Ibunya, Putri Raja Indra Bangsa, adalah keturunan dari penguasa Darul-Kamal, sementara ayahnya, Sultan Mansur Syah, berasal dari garis keturunan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar. Silsilah ini menjadikannya pewaris sah tunggal yang menyatukan seluruh faksi di Aceh. Beliau juga tercatat sebagai Sultan terakhir dari keturunan langsung Ali Mughayat Syah, sang pendiri kesultanan.
Gunongan: Monumen Cinta dan Politik
Sisi humanis sang Sultan tercermin dalam pernikahannya dengan seorang putri dari Kesultanan Pahang, yang dikenal sebagai Putroe Phang. Untuk mengobati kerinduan sang permaisuri akan kampung halamannya yang berbukit, Sultan membangun Gunongan di tengah Taman Medan Khayali—sebuah monumen yang hingga kini masih berdiri tegak di Banda Aceh.
Lebih dari sekadar pendamping, Putroe Phang adalah penasihat politik yang cerdas. Atas saran beliaulah, Iskandar Muda membentuk Majelis Syura (Parlemen) beranggotakan 73 orang. Pembagian kekuasaan ini kemudian diabadikan dalam filosofi Hadih Maja:
“Adat bak Poteu Meureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Kanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana.”
Filosofi ini menegaskan bahwa eksekutif ada di tangan Sultan, yudikatif pada ulama, legislatif pada Kanun Putroe Phang, dan protokol militer pada Laksamana.
Diplomasi “Negeri di Bawah Angin”
Di bawah Iskandar Muda, Aceh menjadi magnet perdagangan internasional. Hubungan diplomatiknya menjangkau kekuatan-kekuatan besar dunia:
Inggris: Ratu Elizabeth I dan Raja James I menjalin hubungan akrab dengan Sultan. Dalam suratnya tahun 1585, Sultan dengan bangga menyebut dirinya sebagai “Penguasa perkasa Negeri-negeri di bawah angin.”
Belanda: Pangeran Maurits dari Dinasti Oranje pernah meminta bantuan Aceh. Utusan Aceh, Tuanku Abdul Hamid, menjadi orang Indonesia pertama yang menginjakkan kaki di Belanda.
Utsmaniyah (Turki): Hubungan militer yang erat ditandai dengan hadiah Meriam Lada Sicupak dari Sultan Utsmaniyah, yang dikirim bersama tenaga ahli perang untuk membantu Aceh.
Prancis: Meski hadiah cermin dari Raja Prancis pecah di perjalanan, Sultan tetap menyambut baik utusan tersebut di istananya yang megah, yang saat itu memiliki “Aula Kaca” (Balee Ceureumeen).
Benteng Pertahanan Melawan Imperialisme
Sultan Iskandar Muda adalah lawan tangguh bagi Portugis. Beliau berkali-kali mengirim armada laut besar untuk menyerang kedudukan Portugis di Malaka dan menghukum kerajaan-kerajaan tetangga yang berkhianat dengan bekerja sama dengan penjajah, seperti Johor dan Pahang. Ketegasannya memastikan bahwa kendali atas pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatera dan Semenanjung Melayu tetap berada di bawah panji Aceh.
Warisan dan Kehormatan
Selama 30 tahun memerintah, Iskandar Muda menjadikan Aceh sebagai kerajaan Islam kelima terbesar di dunia setelah Maroko, Isfahan, Persia, dan Agra. Ia tidak hanya membangun militer, tetapi juga infrastruktur publik seperti kanal air bersih dari Mata Ie hingga ke pusat kota.
Meski wafat pada 27 Desember 1636 dan menandai berakhirnya Dinasti Meukuta Alam, warisannya tetap hidup. Atas jasa-jasanya dalam membangun fondasi ketatanegaraan dan kemandirian bangsa, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Iskandar Muda pada 14 September 1993.
Kini, sosoknya tetap dikenang sebagai simbol kejayaan, keberanian, dan kecerdasan intelektual dari ujung utara Sumatera.
Sumber: Artikel ini dikutip dari akun facebook Nasrul Koto Psu.









