Di tengah hiruk-pikuk sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, tersebutlah sebuah nama yang tak hanya mengukir jasa lewat taktik perang, tetapi juga lewat pengorbanan harta dan jiwa yang luar biasa. Ia adalah Sultan Syarif Kasim II, penguasa ke-12 Kesultanan Siak Sri Indrapura, sosok yang memilih menanggalkan kemegahan takhtanya demi sebuah cita-cita besar bernama Indonesia.
Sang Reformis yang Antikolonial
Terlahir dengan nama Tengku Putra Said Kasim pada 1 Desember 1893, ia naik takhta di usia muda, 21 tahun, pada 1915. Sejak awal kepemimpinannya, ia dikenal sebagai sosok yang sangat antikolonial. Alih-alih tunduk pada Belanda, ia justru “mencuri” ilmu dari penjajah dengan menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Belanda di Betawi di bawah bimbingan Prof. Dr. Hazeu.
Tujuannya satu: memahami pola pikir lawan untuk kemudian melawan mereka kembali. Di bawah kendalinya, Siak mengalami reformasi besar. Ia membangun sekolah-sekolah rakyat, mendirikan asrama (internat) bagi pelajar tanpa biaya, hingga membangun sekolah Islam pertama untuk wanita, Madratunnisa Hasyimiyah, yang dipimpin oleh tokoh pendidik terkemuka, Encik Rahmah Al-Yunusiah.
Strategi “Bayar Utang” untuk Rakyat
Keberanian Sultan terlihat saat ia melawan politik penguasaan tanah oleh Belanda. Pada 1928, ia menghapuskan hak hutan tanah suku-suku dan menggantinya dengan uang tunai melalui kas kesultanan. Langkah ini dilakukan agar Belanda tidak bisa seenaknya memungut cukai dari rakyat.
Bahkan, demi melindungi rakyatnya dari kerja paksa (rodi atau heerendiensten), Sultan Syarif Kasim II rela membayar “uang penebus” kepada Belanda agar tidak ada satu pun rakyat Siak yang diperas tenaganya untuk kepentingan penjajah.
Firasat Subuh dan Penyerahan Harta 13 Juta Gulden
Firasat Sultan akan kemerdekaan Indonesia muncul di subuh 17 Agustus 1945. Namun, karena blokade informasi oleh Jepang, berita Proklamasi baru ia terima secara pasti pada 28 Oktober 1945 melalui telik sandi yang ia utus ke Jakarta.
Tanpa ragu, Sultan segera mengambil langkah besar:
Penyataan Bergabung: Ia menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian dari wilayah Republik Indonesia.
Sumbangan Fantastis: Ia menyumbangkan harta kekayaannya sebesar 13 juta gulden (setara dengan € 69 juta atau lebih dari Rp 1 triliun jika dikonversi ke nilai modern) untuk modal awal pemerintah RI.
Penyerahan Kedaulatan: Di hadapan Gubernur Sumatera, Mr. Teuku Muhammad Hassan, ia menyerahkan mahkota emasnya sebagai simbol penyerahan kekuasaan sepenuhnya kepada Republik.
Melawan dari Tanah Rencong
Saat agresi militer Belanda terjadi, Sultan sempat mengungsi ke Aceh. Di sana, ia kembali menunjukkan dukungannya dengan ikut menyumbang dalam pembelian pesawat pertama Indonesia, Dakota RI-001 Seulawah (Gunung Emas).
Dari Aceh pula, ia dengan lantang menolak utusan bentukan Belanda yang mencoba mengatasnamakan Siak dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Baginya, kedaulatan Indonesia adalah harga mati yang tidak bisa dinegosiasikan melalui manipulasi politik.
Masa Tua yang Bersahaja
Ironisnya, sang raja yang pernah menyumbangkan kekayaan luar biasa itu memilih hidup dalam kesederhanaan di masa tuanya. Menetap di sebuah rumah di Jalan Pesuruan, Jakarta, ia hidup dari tunjangan pensiun yang terbatas.
Setelah sempat pindah ke Batam, Sultan akhirnya kembali ke Istana Siak untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama istri tercinta, Syarifah Fadlun. Sultan Syarif Kasim II wafat pada 23 April 1968 di Rumbai dan dimakamkan dengan upacara militer, meninggalkan warisan berupa keberanian, integritas, dan pengabdian tanpa syarat.
Kini, namanya abadi sebagai nama bandara internasional dan universitas negeri di Pekanbaru. Namun, lebih dari itu, ia dikenang sebagai “Raja Dermawan” yang memberikan segalanya agar merah putih bisa berkibar di atas tanah Melayu.
Editor’s Note: Kisah Sultan Syarif Kasim II adalah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya hasil perjuangan senjata, tapi juga kerelaan hati para raja Nusantara untuk melebur dalam bingkai persatuan.
Sumber: dikutip dari akun facebook Nasrul Koto Psu








