Sunhaji (Guru Besar bidang Ilmu Pengelolaan dan Pembelajaran sekaligus Wakil Rektor 3 UIN Saizu Purwokerto)
Pendidikan selalu tumbuh mengikuti zaman, tetapi zaman digital membawa perubahan yang bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk beradaptasi. Ruang belajar tidak lagi berhenti pada dinding sekolah, meja kelas, atau halaman buku karena layar gawai telah membuka pintu menuju dunia yang nyaris tanpa batas. Setiap hari, anak-anak dan remaja berhadapan dengan jutaan potongan informasi yang datang silih berganti melalui media sosial, mesin pencari, gim, dan berbagai platform digital. Dalam arus semacam itu, proses pendidikan berlangsung secara diam-diam melalui apa yang dilihat, didengar, disukai, dibagikan, bahkan melalui sesuatu yang sekadar lewat di hadapan mata. Pendidikan karakter pun menghadapi ruang baru yang tidak selalu tunduk pada kurikulum, jadwal pelajaran, dan batas-batas institusi pendidikan.
Di sekolah, karakter diajarkan melalui nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepedulian, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama (Zakaria, dkk., 2021). Nilai-nilai tersebut biasanya hadir dalam pelajaran, keteladanan guru, kegiatan bersama, serta kebiasaan sederhana seperti antre, menyapa, menjaga kebersihan, dan menghargai pendapat teman. Namun, setelah bel sekolah berbunyi, peserta didik kembali memasuki ruang digital yang memiliki aturan berbeda dan bergerak dengan logika yang tidak selalu sejalan dengan tujuan pendidikan. Sebuah komentar kasar dapat memperoleh ribuan perhatian, sementara sikap santun sering berlalu tanpa tepuk tangan. Dari situ muncul pertanyaan penting tentang seberapa kuat pendidikan karakter mampu bertahan ketika peserta didik hidup dalam lingkungan digital yang terus menawarkan godaan untuk mengejar perhatian.
Algoritma bekerja tanpa suara, tetapi pengaruhnya terasa dalam keseharian. Sistem digital membaca kebiasaan pengguna melalui berbagai interaksi, kemudian menyajikan konten yang dianggap paling mungkin menarik perhatian. Semakin lama seseorang berada dalam sebuah platform, semakin banyak pula pola perilaku yang dapat terbaca dan dipakai untuk menentukan apa yang muncul berikutnya. Pengguna merasa sedang memilih tontonan, padahal pilihan tersebut juga dibentuk oleh rangkaian rekomendasi yang bekerja di balik layar. Dalam situasi seperti ini, pendidikan karakter tidak cukup hanya mengajarkan apa yang baik, tetapi juga perlu membekali peserta didik dengan kesadaran tentang bagaimana lingkungan digital membentuk cara berpikir dan bertindak.
Karakter dalam Ruang Algoritmik
Algoritma tidak mengenal baik dan buruk sebagaimana manusia memahami nilai moral. Algoritma bekerja berdasarkan data, pola, relevansi, keterlibatan, dan kemungkinan seseorang memberikan respons terhadap sebuah konten. Konten yang mengundang kemarahan, kontroversi, tawa, atau rasa penasaran dapat memperoleh perhatian besar karena mampu membuat pengguna bertahan lebih lama di dalam platform. Dalam kondisi tersebut, popularitas mudah disalahartikan sebagai kebenaran dan jumlah tayangan sering dianggap sebagai ukuran kualitas. Pendidikan karakter perlu hadir untuk mengajarkan bahwa sesuatu yang ramai belum tentu benar, sesuatu yang viral belum tentu layak ditiru, dan sesuatu yang disukai banyak orang belum tentu baik bagi kehidupan bersama.
Masalah menjadi semakin rumit ketika ruang digital membentuk kebiasaan melalui pengulangan. Seseorang yang terus-menerus melihat perdebatan penuh caci maki dapat menganggap bahasa kasar sebagai sesuatu yang biasa. Seseorang yang setiap hari menyaksikan budaya pamer dapat perlahan mengukur kebahagiaan melalui barang, penampilan, dan pengakuan publik. Kebiasaan kecil yang berlangsung berulang-ulang dapat membentuk cara pandang sebelum seseorang sempat menyadari perubahan tersebut. Pendidikan karakter perlu membaca persoalan ini sebagai persoalan pembiasaan, sebab karakter bukan sekadar pengetahuan tentang nilai, melainkan kebiasaan memilih dan bertindak ketika tidak ada pengawasan.
Ruang digital juga menghadirkan persoalan tentang identitas (Krisna, dkk., 2024). Banyak orang merasa perlu membangun citra tertentu agar mendapatkan perhatian, pengikut, atau pengakuan dari orang lain. Kehidupan kemudian mudah berubah menjadi panggung, sementara batas antara diri yang sebenarnya dan diri yang ditampilkan semakin tipis. Dalam kondisi semacam itu, pendidikan karakter memiliki tugas penting untuk mengajarkan keutuhan diri, sehingga seseorang tidak menggantungkan harga diri pada jumlah suka, komentar, pengikut, atau penilaian pengguna lain. Karakter yang matang bukan karakter yang selalu tampak baik di depan kamera, melainkan karakter yang tetap memegang nilai ketika kamera sudah dimatikan.
Guru, Keluarga, dan Literasi Digital
Menghadapi perubahan tersebut, guru tidak cukup hanya menjadi penyampai pengetahuan. Guru perlu hadir sebagai pendamping yang membantu peserta didik membaca dunia digital dengan nalar kritis dan kesadaran moral. Ketika sebuah video viral dibicarakan di kelas, misalnya, pembahasan tidak harus berhenti pada isi video, tetapi dapat diarahkan pada pertanyaan tentang kebenaran informasi, dampak komentar, etika berbagi, serta alasan sebuah konten memperoleh perhatian besar. Cara semacam ini membuat pendidikan karakter tidak terasa sebagai nasihat yang berdiri jauh dari kehidupan peserta didik. Nilai moral justru hadir dalam persoalan yang benar-benar mereka jumpai setiap hari.
Keluarga memiliki peran yang tidak kalah penting karena pendidikan karakter tidak pernah selesai ketika anak meninggalkan sekolah. Rumah menjadi ruang pertama tempat seseorang belajar tentang batas, tanggung jawab, kesabaran, empati, dan cara memperlakukan orang lain. Kehadiran gawai di tengah keluarga membuat proses tersebut menghadapi tantangan baru karena setiap anggota keluarga dapat tenggelam dalam ruang digital masing-masing. Percakapan di meja makan dapat terputus oleh notifikasi, waktu bersama dapat tergantikan oleh layar, dan perhatian dapat terpecah menjadi serpihan kecil yang sulit dikumpulkan kembali. Keteladanan orang tua dalam menggunakan teknologi secara sehat menjadi bagian penting dari pendidikan karakter yang sering kali lebih kuat daripada nasihat panjang.
Literasi digital juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan karakter, bukan sekadar keterampilan teknis menggunakan perangkat (Sumiah, dkk.,2026). Peserta didik perlu memahami cara memeriksa informasi, mengenali manipulasi, menjaga privasi, menghormati karya orang lain, serta mempertimbangkan dampak sebelum mengunggah sesuatu. Lebih jauh dari kemampuan teknis tersebut, literasi digital harus menumbuhkan kebiasaan bertanya sebelum percaya dan berpikir sebelum berbagi. Kesadaran semacam itu membantu peserta didik memahami bahwa setiap tindakan di ruang digital memiliki konsekuensi bagi diri sendiri maupun orang lain. Teknologi kemudian tidak dipandang sebagai musuh pendidikan, melainkan sebagai ruang kehidupan yang membutuhkan kedewasaan moral.
Menumbuhkan Karakter di Tengah Arus
Pendidikan karakter di era digital membutuhkan pendekatan yang lebih dialogis dan kontekstual (Lendra, 2025). Anak-anak tidak cukup diberi daftar tentang perilaku baik dan buruk, tetapi perlu diajak membicarakan persoalan nyata yang muncul dalam kehidupan digital. Perundungan siber, budaya viral, kecanduan perhatian, berita palsu, ujaran kebencian, hingga penggunaan kecerdasan buatan dapat menjadi bahan pembelajaran yang dekat dengan pengalaman mereka. Dari persoalan tersebut, peserta didik dapat belajar bahwa nilai kejujuran, tanggung jawab, empati, dan penghormatan terhadap manusia memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan digital. Pendidikan karakter pun berubah dari sekadar hafalan nilai menjadi latihan mengambil keputusan secara sadar.
Hal penting lain adalah membangun kemampuan untuk berhenti sejenak. Algoritma bekerja dengan kecepatan tinggi dan mendorong pengguna untuk terus menggulir layar dari satu konten menuju konten berikutnya. Pendidikan perlu mengajarkan jeda sebagai bentuk kedewasaan, sebab tidak semua informasi harus segera dipercaya, tidak semua perdebatan harus diikuti, dan tidak semua tren harus dicoba. Kemampuan menahan diri menjadi semakin berharga ketika teknologi dirancang untuk mempertahankan perhatian selama mungkin. Dalam jeda yang sederhana, seseorang memiliki kesempatan untuk bertanya apakah sebuah tindakan sesuai dengan nilai yang diyakini.
Karakter juga membutuhkan keberanian untuk tidak selalu mengikuti arus. Dunia digital sering menciptakan tekanan sosial yang membuat seseorang merasa harus menyukai sesuatu hanya karena banyak orang menyukainya. Pendidikan perlu menumbuhkan kemampuan untuk berkata tidak, berbeda pendapat dengan santun, serta memilih sesuatu berdasarkan pertimbangan moral dan akal sehat. Kebebasan digital tanpa kemampuan mengendalikan diri dapat berubah menjadi kebisingan yang melelahkan. Sebaliknya, kebebasan yang disertai karakter dapat menjadikan ruang digital sebagai tempat bertukar gagasan, membangun solidaritas, dan memperluas manfaat pengetahuan.
Persoalan terbesar bukan terletak pada keberadaan algoritma, melainkan pada ketidaksiapan manusia dalam hidup bersama algoritma. Teknologi pada dasarnya merupakan alat, tetapi pola penggunaan teknologi dapat membentuk kebiasaan, dan kebiasaan yang terus berlangsung dapat memengaruhi karakter. Karena itu, pendidikan harus bergerak lebih cepat dalam membaca perubahan budaya digital tanpa kehilangan pijakan nilai kemanusiaan. Sekolah, keluarga, masyarakat, dan berbagai institusi pendidikan perlu membangun ekosistem yang membuat teknologi berjalan berdampingan dengan tanggung jawab moral. Pendidikan karakter harus hadir bukan untuk menjauhkan generasi muda dari teknologi, melainkan untuk membantu mereka tetap menjadi manusia ketika hidup semakin dekat dengan mesin.
Di tengah derasnya arus digital, karakter menjadi jangkar yang menjaga manusia agar tidak hanyut bersama setiap tren yang datang. Algoritma dapat memilihkan tontonan, menyusun rekomendasi, dan memperkirakan apa yang menarik perhatian, tetapi keputusan tentang benar dan salah tetap membutuhkan pertimbangan manusia. Pendidikan memiliki tugas untuk menjaga ruang batin tersebut agar tidak seluruhnya diserahkan kepada mesin. Anak-anak perlu tumbuh dengan kemampuan menggunakan teknologi tanpa kehilangan empati, berpikir kritis tanpa kehilangan kesantunan, serta mengejar kemajuan tanpa meninggalkan tanggung jawab sosial. Pertemuan antara karakter dan algoritma semestinya bukan pertarungan antara manusia dan teknologi, melainkan kesempatan untuk membangun peradaban digital yang lebih manusiawi.
Sunhaji (Guru Besar bidang Ilmu Pengelolaan dan Pembelajaran sekaligus Wakil Rektor 3 UIN Saizu Purwokerto)
Editor: Moh Khoeron/ Redaksi
Sumber: Kemenag go id








