DENPASAR, INFOZONE – Peran guru kini melampaui mengajar matematika atau biologi. Di era digital, guru harus menjadi perisai anak dari ancaman brain rot, judi online, hingga eksploitasi siber.
Hal itu mengemuka dalam Forum Sahabat Tunas di Denpasar, Bali, Kamis (2/7/2026). Forum bertajuk `Guru Berdaya, Generasi Unggul dan Tangguh Digital sebagai Investasi Masa Depan` ini dihadiri Menkomdigi Meutya Hafid dan 750 guru luring serta daring.
Dirjen KPM Kemkomdigi Fifi Aleyda Yahya menyebut, ruang kelas kini bersanding dengan algoritma.
“Guru juga dituntut memberikan bimbingan terbaik kepada anak-anak dalam menghadapi tantangan di ruang digital,” ujarnya.
Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan, regulasi seperti PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang PP Tunas tidak akan jalan tanpa guru.
“Yang setiap hari bersama anak-anak selain keluarga adalah para guru. Karena itu kami mohon dukungan Bapak dan Ibu guru,” kata Meutya.
Pemerintah telah membatasi usia minimum 16 tahun untuk platform digital berisiko tinggi guna mencegah grooming, pornografi, dan judi online.
Forum menghening saat Pancawati dari komunitas pendidikan menyorot anak disabilitas. Secara usia mungkin di atas 16 tahun, tapi kapasitas emosinya setara anak 8-9 tahun. Kondisi ini membuat mereka rentan korban siber.
Psikolog UI Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim alias Bunda Romi tegas: “It’s a big NO-NO, anak memakai handphone bapak atau ibunya.”
Ia dorong sekolah gelar forum parenting agar guru dan orang tua satu visi.
Puteri Indonesia Pariwisata 2026 Karina Moudy menyorot brain rot pada Generasi Alpha. Adik-adiknya lebih pilih gawai daripada main di luar.
“Mereka mengakses medsos tanpa kesiapan bersosial media secara sehat,” kata Karina. Ia sarankan 3 pertanyaan sebelum posting: bermanfaat? menyinggung? siap dilihat 5 tahun lagi?
Bunda Romi menambahkan, kepuasan instan di digital bikin anak rapuh saat hadapi penolakan di dunia nyata.
Prof. Anak Agung Ngurah Mustakawarman juga mengingatkan era QRIS dan e-wallet bikin anak boros. Tanpa uang fisik, kesadaran belanja terkikis. Mudah klik in-app purchase dan jadi sasaran penipuan.
Guru SMPN 2 Denpasar Darma Yanti bertanya soal privasi pemeriksaan gawai. Narasumber sepakat: pencegahan lebih baik dari represif.
Contohnya: kumpulkan gawai saat masuk kelas, atau atur meja agar layar terpantau. Asalkan disepakati orang tua, cara ini tidak melanggar hak anak.
“Forum ini pengingat, di balik megabita data ada jiwa anak Indonesia yang harus dijaga,” tutup forum.
Penulis: Wandi | Redaktur: Kristantyo Wisnubroto | Sumber: http://Indonesia.go.id_









