FENOMENA MERCU KEILMUAN TERBALIK :Standar Keilmuan Filosof Muslim Zaman Keemasan danKetergantungan Akademik Dunia Muslim Kini

Oleh : M. Sangap Siregar, S.Pd. MA.

Dengan bismillah kalam bermula, dengan sholawat salam dibuka. Semoga nitizen bahagia sejahtera mendapat berkah sepanjang hayat. Aamiin!!

Pendahuluan

Peradaban manusia pernah menyaksikan bagaimana cahaya ilmu bersinar terang dari upuk Timur dunia Islam, menjadi jembatan yang meyambungkan warisan kuno, dengan kebangkitan Eropa menuju renaissans.

Namun hari ini paradoks zaman menyentak qolbu, terjadi : Pusat-pusat Pendidikan Tinggi negeri-negeri muslim justru menjadikan standar akademik Barat sebagai satu-satunya patokan keabsahan ilmu, bahkan karya Disertasi dan Jurnalpun harus “diverifikasi” oleh lembaga Barat agar dianggap bermutu.

Artikel ini, membentangkan perbandingan tajam antara standar keilmuan yang melahirkan kemajuan dunia dengan standardisasi yang kini membelenggu kebebasan berpikir bangsa sendiri, serta merenungkan kemana arah kemandirian ilmu kita?!

Latar Belakang

Pada abad ke-8 hingga ke-15 masehi. Dunia Islam menjadi pusat rujukan ilmu pengetahuan dunia. Dibawah payung kekhalifahan Abbasiyah, Andalusia hingga pusat-pusat ilmu di Timur, para ulama dan filsuf muslim tak sekedar menterjemahkan naskah-naskah kuno – melainkan juga mengembangkan, menguji dan melahirkan metode-metode baru yang menjadi fondasi sains modern. Karya mereka mengalir ke Eropa melalui Toledo, Sisilia dan jalur perdagangan menjadi pemicu utama bangkitnya intelektualitas Barat.

Namun seiring waktu, narasi sejarah berubah. Kolonialisme membawa pola pikir baru, dan pasca kemerdekaan sistem pendidikan di negeri-negeri muslim banyak menyerap model Barat hingga melupakan akar sendiri.

Munculnya pangkalan data, seperti : Scopus, kini menjadi patokan tunggal kelayakan akademik, dimana kualitas karya akademik sering kali diukur bukan dari bobot  dan manfaat bagi ummat, bangsa dan negara, melainkan dari indeksasi dan sitasi yang dikendalikan dari luar.

Uraian Materi

I. Standar Keilmuan Filosof Muslim Zaman Keemasan : Integrasi Wahyu, Rasio dan Pengalaman

Para ilmuwan muslim kala itu memiliki standar keilmuan yang kokoh dan utuh, yang melahirkan pengaruh besar bagi renaissans Barat :

1. Integrasi Wahyu dan Akal
Al-Khindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, hingga  Ibnu Rusyd menyatukan pemahaman agama dengan logika dan filsafat, bukan meniadakan salah satunya.

Bagi mereka, ilmu adalah satu kesatuan ; Wahyu memberi petunjuk nilai, sedang Akal dan Pengalaman membuka rahasia alam semesta. Karya Ibnu Rusyid misalnya, menjadi rujukan utama Thomas Aquinas dan tokoh Skolastik Eropa dalam menyelaraskan iman dan rasio.

2. Metode Ilmiah yang Sebenarnya

Ibnu Al-Haitham adalah pelopor metode eksperimen modern, jauh  sebelum ilmuwan Barat melakukannya. Ia tidak hanya berteori tetapi juga menguji lewat percobaan, mencatat, dan memverifikasi kembali – prinsip yang kini menjadi dasar sains dunia. Karyanya tentang optik mengubah pemahaman manusia tentang cahaya dan penglihatan, lalu menjadi rujukan bagi pelukis dan ilmuwan Eropa masa  Renaissans.

3. Keterbukaan dan Kesyumulan Ilmu

Di Baitul Hikmah Baghdad dan Perpustakaan Andalusia, ilmu dikumpulkan dari bangsa manapun – Yunani, Persia, India – lalu disempurnakan dan disebarluaskan tanpa batas kedaerahan. Angka, Aljabar,  Kedokteran, kimia, astronomi, hingga teknik ukur berkembang pesat dan menjadi bekal bagi Eropa yang saat itu masih dalam masa kegelapan (dark age).

Intinya : Standar ilmu mereka bukan diukur dari siapa yang mengakui, melainkan kebenaran yang dibuktikan, kemanfaatan yang dirasakan dan keselarasan dengan Wahyu kebenaran Ilahi.

II. Standardisasi Keilmuan Barat kini :
Keunggulan atau Ketergantungan?

Di era modern, standar akademik yang berlaku global banyak dirancang oleh lembaga-lembaga Barat. Scopus, Web of Sience, dan Indeksasi Jurnal Internasional menjadi tolok ukur mutlak kelulusan, kenaikan jabatan, hingga akreditasi perguruan tinggi di hampir seluruh negeri muslim.

Sisi Positif : standar ini mendorong ketertiban etika publikasi dan visibilitas karya dimata dunia.

Sisi Kritis yang Terlupakan :

* Sentrisme Bahasa dan Perspektif :
Hampir sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris, sering kali mengabaikan kajian dalam bahasa nasional dan kearifan lokal yang sangat relevan bagi masyarakat bangsa sendiri.

* Independensi yang Tergerus:

Kualitas karya sering dinilai berdasarkan seberapa sering dikutip oleh penulis Barat, bukan berdasarkan  solusi yang  ditawarkan bagi masalah umat atau kebenaran ilmiah yang sesungguhnya.

* Hilangnya Identitas :

Perguruan Tinggi kita, sering terjebak mengejar peringkat, bukan melahirkan pemikiran yang mandiri dan sesuai dengan jiwa serta karakter bangsa dan agama.

* Ironis :
Kita  yang dulu menjadi sumber inspirasi, kini menjadikan pewaris kita sebagai hakim tunggal atas keilmuan sendiri. Padahal nilai ilmu tidak bergeser karena pengakuan, melainkan karena kebenaran yang dikandungnya.

III. Mencari Titik Temu : Menggunakan Standar Global tanpa Hilang Jati Diri :

1. Mengembalikan Epistemologi Asli : mengembalikan pola pikir ilmu yang menyatukan agama dan sains, sebagaimana dicontohkan para filsuf muslim dahulu.

2. Menguasai Alat, bukan menjadi Alat : menggunakan standar internasional  sebagai pintu gerbang komunikasi, bukan sebagai satu-satunya penentu kebenaran.

3. Membangun Sistem Penilaian Sendiri : menciptakan pangkalan data dan jurnal bereputasi  yang diakui dunia, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai dan perspektif peradaban kita sendiri.

4. Menghargai Karya yang Membumi : memberikan bobot yang setara bagi penelitian yang memecahkan masalah nyata di tengah masyarakat bangsa, tak sekedar mengejar angka sitasi dan kum tertentu.

Kesimpulan dan Penutup

Sejarah mencatat : Bukan pengakuan orang lain yang membuat ilmu kita agung, tetapi kebenaran dan manfaat yang lahir darinya. Para filosof muslim zaman keemasan menjadi mercu penerang dunia karena mereka menggali ilmu dari sumber sejati, mengembangkannya dengan akal yang cerdas dan menyebarkannya dengan niat yang tulus.

Kini, saatnya kita bangkit dari ketergantungan yang tidak perlu, gunakan standar global untuk berkomunikasi, namun jangan biarkan ia menentukan arah dan isi pemikiran kita. Kembalilah pada sumber yang dulu melahirkan kejayaan, dimana kesatuan wahyu, akal dan pengabdian kepada ummat.

Jika dulu ilmu kita membangkitkan peradaban lain, maka kini – dengan kekayaan  yang tak terhingga- ilmu kita wajib membangkitkan peradaban sendiri, agar kelak generasi tidak menjadi murid yang pasrah, melainkan menjadi guru yang bijak dan mandiri di pentas dunia insyaAllah. Wassalam ***

Penulis: M. Sangap Siregar, S.Pd. MA. Adalah: Dosen : Univ. Hang Tuah Pekanbaru Riau. Alumni : Magister Psikologi Konseling University Kebangsaan Malaysia, 2004.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *