Anak terserang DBD/ Foto : https://share.google/KQ0qqY6Qpxbt3QlTQ
JAKARTA, Infozone – DBD masih jadi ancaman serius. Kemenkes catat 161.752 kasus DBD dengan 673 kematian sepanjang 2025. Hingga Mei 2026 sudah 39.672 kasus dan 105 kematian.
Dirjen P2P Kemenkes Prima Yosephine ingatkan: “Kemampuan masyarakat kenali pola demam dan warning signs dengue jadi senjata utama selamatkan nyawa.”
Banyak orang tua anggap demam tinggi anak cuma flu musiman. Kasih obat penurun panas, tunggu besok sembuh. Padahal pada kasus DBD, keputusan “nunda ke dokter” bisa jadi awal terlambat.
DBD sering datang dengan gejala biasa: demam mendadak, nyeri kepala, lemas, hilang nafsu makan. Tapi di balik itu kondisi bisa memburuk cepat kalau tanda bahaya nggak dikenali.
“Kemampuan masyarakat memahami pola demam dan mengenali warning signs dengue kini jadi salah satu senjata terpenting selamatkan nyawa,” kata Kemenkes.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea bilang DBD masih tantangan kesehatan terbesar Indonesia.
“Beberapa tahun terakhir, terutama 2024, tren kasus dengue masih sangat tinggi dengan penyebaran wilayah semakin luas serta dampak signifikan ke angka kesakitan, kematian, pembiayaan kesehatan nasional,” ujarnya saat ASEAN Dengue Day 2026, Sabtu 13/6/2026.
Data Kemenkes:
1. 2025 : 161.752 kasus DBD, 673 kematian
2. Jan-Mei 2026 : 39.672 kasus, 105 kematian
“DBD bukan penyakit musiman. Ini ancaman nyata yang bisa serang siapa saja, di mana saja, kapan saja,” tegasnya.
Deteksi dini + pencegahan harus jalan bareng. Masyarakat wajib waspada kalau demam tinggi beberapa hari disertai:
1. Nyeri perut hebat
2. Muntah terus-menerus
3. Perdarahan gusi, mimisan, bintik merah kulit
4. Tubuh semakin lemah/lemas
“Deteksi dini dan pencegahan harus beriringan. Masyarakat perlu paham kapan harus waspada dan kapan segera cari pertolongan medis,” ujar Prima.
Pemerintah kebut target Indonesia zero kematian DBD 2030. Upaya: penguatan surveilans, integrasi data, akses diagnosis, pengendalian vektor, inovasi Wolbachia + vaksin dengue.
Tapi fondasi utamanya tetap PSN 3M Plus:
1. Menguras tempat penampungan air
2. Menutup rapat tempat penyimpanan air
3. Memanfaatkan /mendaur ulang barang bekas
4. Plus : tabur bubuk larvasida, ikan pemakan jentik, dll
“Perang lawan DBD nggak mulai di RS. Ia mulai dari rumah, saat keluarga rutin bersih-bersih dan masyarakat paham tanda bahaya,” tegas Prima.
Target 2030 butuh kerja kolaboratif Pemda, sekolah, media, organisasi profesi, akademisi, hingga masyarakat sipil.
Sumber: http://Indonesia.go.id, Kemenkes RI.
Editor: [Redaksi Infozone]









