Di balik megahnya upacara pengibaran bendera setiap tanggal 17 Agustus, tersimpan satu kisah haru yang sering kali luput dari perhatian: perjuangan Fatmawati, Sang Ibu Negara pertama, saat menjahit Sang Saka Merah Putih.
Bagi banyak orang, mungkin itu hanyalah sehelai kain. Namun bagi Fatmawati, itu adalah simbol harga diri bangsa yang ia jahit dengan cucuran air mata dan pengorbanan fisik yang luar biasa.
Menjahit di Tengah Keterbatasan
Kisah ini terjadi pada tahun 1944. Di tengah masa pendudukan Jepang, mendapatkan kain merah dan putih yang layak adalah misi yang nyaris mustahil. Barang-barang impor dikuasai oleh tentara Jepang, dan upaya untuk mendapatkan kain harus dilakukan secara diam-diam.
Berkat bantuan seorang rekan bernama Shimizu, Fatmawati akhirnya mendapatkan kain merah dan putih. Namun, tantangan sesungguhnya bukanlah pada kain tersebut, melainkan pada kondisi fisiknya. Saat itu, Fatmawati sedang hamil tua mengandung putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra.
Dalam buku yang ditulis oleh Bondan Winarno, Fatmawati pernah menuturkan momen haru tersebut:
“Menjelang kelahiran Guntur, ketika usia kandungan telah mencukupi bulannya, saya paksakan diri menjahit bendera Merah Putih, saya jahit berangsur-angsur dengan mesin jahit Singer yang dijalankan dengan tangan saja, sebab Dokter melarang saya menggunakan kaki untuk menggerakkan mesin jahit.”
Di bawah bimbingan tangan yang perlahan, Fatmawati menyatukan potongan-potongan kain itu. Air matanya menetes—sebuah perpaduan antara ketegangan menghadapi kelahiran anak pertama dan harapan besar akan kemerdekaan Indonesia yang segera tiba.
Sosok dengan Prinsip yang Kuat
Selain jasanya menjahit bendera, sejarah juga mengenang Fatmawati sebagai sosok perempuan yang memegang teguh prinsip. Ia dikenal sebagai Ibu Negara yang sangat menentang poligami.
Ketika Presiden Soekarno meminta izin untuk menikah lagi dengan Hartini pada tahun 1953, Fatmawati tidak memilih untuk berkompromi. Sebagai bentuk ketegasan sikap, ia memilih untuk meninggalkan Istana Negara. Keputusan ini menunjukkan martabat seorang perempuan yang memilih harga diri di atas kenyamanan fasilitas negara.
Warisan yang Abadi
Fatmawati tutup usia pada 14 Mei 1980. Meski raganya telah tiada, namanya abadi dalam setiap detak jantung bangsa. Beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid.
Kini, nama Fatmawati terukir indah di berbagai sudut Indonesia—sebagai nama bandara di Bengkulu, RSUP di Jakarta, hingga stasiun MRT yang menjadi nadi transportasi ibu kota. Namun, warisan terbesarnya tetaplah Sang Saka Merah Putih yang kini berkibar di seluruh pelosok negeri, hasil dari ketulusan tangan seorang ibu yang sedang mengandung harapan akan sebuah bangsa yang merdeka.
Mari kita kenang kembali jasa beliau. Bahwa kemerdekaan bukan hanya diraih dengan senjata, tetapi juga dengan ketulusan dan keteguhan hati seorang perempuan.
Sumber: Artikel dan foto dimuat ini dikutip dari akun facebook Nasrul Koto Psu









