MENGADOPSI STRATEGI KEKUATAN IRAN : Keteguhan Bertahan di Tengah Tekanan, Cermin Perjuangan yang Layak Diteladani

Oleh : M. Sangap Siregar, S.Pd. MA

Dengan bismillah kalam bermula, dengan sholawat salam dibuka, semoga nitizen bahagia sejatera mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa. Aamiin!!!

Bacaan Lainnya

Pendahuluan

Selama 48 tahun – sejak revolusi Islam 1979 hingga hari ini – Iran hidup dalam kepungan embargo dan sanksi paling berat yang pernah diberlakukan sejarah. Amerika Serikat beranggapan bahwa tekanan ekonomi yang mencekik akan melumpuhkan Iran hingga menyerah.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya Iran bangkit membangun kekuatan sendiri – dari ekonomi, farmasi, industri, hingga teknologi persenjataan mutakhhir, seperti rudal balistic, satelit, nuklir dll. tanpa tergantung pada izin atau bantuan dari mereka yang memusuhinya.

Disisi lain, Indonesia sebagai negara yang diberi amanah kekayaan alam yang melimpah, penduduk ratusan juta, posisi strategis tak tertandingi – justru tampak terpuruk, tertinggal, miskin terbelenggu oleh penguasaan segelintir elit dan pemimpin yang tidak amanah.

Pertanyaan menggugah : Apa rahasia keteguhan Iran? Apa persamaan dan perbedaan kedua bangsa dan negara? Dan pelajaran apa yang sanggup meyakinkan kita untuk bangkit dari keterpurukan ini?!

Latar Belakang

Sejak 1979, AS memutuskan hubungan dan memberlakukan embargo menyeluruh terhadap Iran. Bahkan sanksi demi sanksi diperberat terus- menerus : pemblokiran aset negara, larangan ekspor minyak, pemutusan akses perbankan internasional, hingga larangan import barang dan teknologi.

Dunia memprediksi Iran akan runtuh dalam hitungan tahun. Namun 48 tahun kemudian Iran tidak saja tetap berdiri, tetapi juga mampu menegakkan kepala, membangun kekuatan yang ditakuti kawasan, swasembada obat hingga 96 %, ribuan perusahaan berbasis ilmu pengetahuan, kecanggihan alutsista modern buatan rekayasa sendiri, rudal balistik berjangkauan jarak jauh ribuan km, teknologi luar angkasa, hingga penguasaan teknologi nuklir secara mandiri, semua dibangun karena dipaksa berdiri sendiri.

Sedangkan Indonesia? Dianugrahi kekayaan alam melimpah tak terkira, diakui dunia, tidak terembargo oleh siapapun- tetapi kok justru tertinggal ketergantungan yang dipelihara secara sengaja.

Kekayaan alam diekspor mentah, teknologi dibeli dari luar, industri lemah, korupsi merajalela, dan rakyat miskin kian bertambah. Iran maju karena dipaksa mandiri; Indonesia terpuruk karena terus nyaman bergantung dan dikendalikan. Inilah perbandingan kontras yang amat ketara.

Uraian Materi

A. Rahasia Keteguhan dan Kebangkitan Iran di bawah Embargo

1. Kemandirian adalah Strategi Nasional, Bukan sekedar Slogan.

Ketika akses luar negeri terputus, Iran memilih jalan berani : Membuat sendiri segala sesuatu yang dibutuhkan bangsa. Barang impor diganti dengan produksi dalam negeri. Lebih dari 2000 jenis komponen industri petrokimia yang dulu dibeli dari barat, kini diproduksi sendiri.

Perusahaan berbasis ilmu pengetahuan tumbuh dari 1.322 (2015), menjadi lebih dari 10. 000 (2025), menghasilkan nilai ekonomi lebih dari 18 miliar dollar AS dan menyerap 500. 000 tenaga kerja. Obat-obatan, peralatan medis, mesin industri, suku cadang pesawat – semuanya dipelajari dan dibuat sendiri.

2. Pendidikan Sains dan Teknologi diprioritaskan secara konsisten, sekitar 35 % lulusan Perguruan Tinggi Iran berasal dari bidang sains, teknologi, teknik dan matematika – salah satu proporsi tertinggi di dunia. Tingkat melek huruf di Iran mencapai 98%.

Mahasiswa dikirim ke Universitas terbaik dalam negeri. Hasilnya Iran mampu mengembangkan teknologi nanoteknologi, bio teknologi, pertahanan udara buatan sendiri, rudal balistik, pesawat tanpa awak, hingga satelit dan teknologi nuklir. Ketika pintu teknologi asing ditutup, Iran membuka pintu pendidikan, penelitian dan pengembangan sendiri.

3. Ekonomi Perlawanan – Diversifikasi dan jaringan perdagangan alternatif.

Iran tidak menyerah pada isolasi, ia membangun jaringan perdagangan baru dengan negara-negara yang tidak tunduk pada tekanan AS – seperti Rusia, Tiongkok, negara-negara Asia dan Afrika.

Perjanjian kerjasama jangka panjang 25 tahun dengan Tiongkok, keanggotaan dalam organisasi kerjasama Shanghai, dan perdagangan mata uang lokal mengurangi ketergantungan pada dollar AS. Ekspor non minyak terus tumbuh sehingga ekonomi tidak lagi sekedar bergantung pada komoditi minyak.

4. Industri Pertahanan Mandiri – Kekuatan yang menangkal Agresi

Iran menyadari : di tengah tekanan dunia yang tidak adil, kemandirian pertahanan adalah syarat kedaulatan. Mereka membangun sendiri segala kebutuhan autsista ; rudal balistik, pesawat tanpa awak, sistem pertahanan udara canggih, kapal selam, hingga peralatan militer lainnya, sekitar 90% kebutuhan pertahanan diproduksi mereka dalam negeri. Dengan demikian embargo tidak lagi berarti melemahkan pertahanan negara.

5. Kesatuan Tekad dan Ketabahan Bangsa

Yang terpenting rakyat dan pemimpin bersatu padu :

Ada kesadaran bahwa kesulitan adalah akibat kezaliman pihak asing, sehingga harus dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan jiwa. Tekanan dari luar justru mempersatukan, bukan memecah belah persatuan dan kesatuan.

B. Potensi Persamaan dan Perbedaan antara Iran dan Indonesia

* Keduanya sama-sama kaya sumber daya alam – minyak bumi dan gas, tambang, pertanian dan kekayaan laut yang melimpah.

* Keduanya berpenduduk besar dan berpotensi menjadi kekuatan besar dunia – Iran lebih kurang 90 juta jiwa, Indonesia lebih dari 284 juta jiwa.

* Keduanya memiliki peradaban tua dan budaya luhur yang mampu menjadi landasan kebangkitan.

* Keduanya menghadapi tantangan kedaulatan – Iran diembargo terbuka, Indonesia dari penjajahan terselubung melalui utang, investasi asing dan ketergantungan teknologi.

* Keduanya berpotensi membangun kemandirian jika bertekad bulat : Kekayaan alam diolah sendiri, pendidikan riset dan teknologi dimajukan, industri dibangun dan dikembangkan dari olah baku menuju bahan jadi sesuai kebutuhan bangsa.

C. Analisis Perbedaan Yang Memilukan sekaligus Menyadarkan :

* Aspek kondisi eksternal : Iran diembargo selama 48 tahun, diputus dari dunia luar. Indonesia diterima dunia, bebas berdagang tak ada sanksi

* Aspek SIkap Dasar : Iran dipaksa mandiri – akhirnya bangkit dan berdikari, Indonesia diberi kemudahan – memilih ketergantungan dan dikendalikan

* Aspek Pendidikan dan sains : Iran 35 % lulusan sain teknik dan matematika dan warga Iran melek huruf hingga 98%. Sedangkan Indonesia pendidikan rendah, anggaran pendidikan dan riset dibawah 0.3% dari PDB.

* Aspek Penguasaan Teknologi : Iran membuat sendiri rudal, obat-obatan, mesin dan nuklir. Manakala Indonesia membeli yang sudah jadi bahkan bekas dan belum mampu buat sendiri

* Aspek Kekayaan Alam : Iran di ekspor dalam bentuk olahan yang dikembangkan sendiri. Indonesia menjual bahan mentah diolah dan dikemas diluar baru dibeli kembali dengan mahal

* Aspek Persatuan : Iran rakyat bersatu padu menghadapi tekanan luar, Indonesia terpecah belah, elit berebut kekayaan.

E. Harapan dan Kemungkinan yang bisa diadopsi Indonesia

* Aspek Korupsi dan Penguasa : Iran mengalami tekanan luar, membuat mereka bersih dari korupsi dan bersatu padu hadapi musuh. Indonesia tanpa tekanan luar – Penguasa tidak amanah, malah korupsi merajalela.

Itulah inti perbedaan mendasar antara Iran dan Indonesia ; Iran mandiri karena dipaksa. Indonesia tidak dipaksa namun memilih bergantung karena penguasaan kekayaan alam oleh segelintir orang yang lebih mementingkan diri sendiri daripada kemandirian bangsa.

D. Perjuangan Iran hadapi kezaliman AS Versus Keterpurukan Indonesia

Iran menderita karena musuh dari luar – mereka dianiaya, diblokir dan diputus aksesnya – namun itulah yang menempa mereka jadi kuat dan tangguh.

Indonesia menderita karena musuh dari dalam :

* Mapia Politik – yang memikirkan kekuasaan, bukan nasib rakyat.

* Mapia Ekonomi – menguasai kekayaan dan sumber daya alam untuk kepentingan diri dan kelompok serta asing.

* Mapia Peradilan – hukumnya tajam ke bawah tumpul ke atas dan undang-undang, pasal-pasal bisa diperjual belikan

* Pemimpin yang tidak amanah – yang lebih gemar berutang daripada membangun kemandirian bangsa.

Iran bangkit karena semua dipersatukan melawan musuh bersama dari luar. Indonesia terpuruk karena tidak ada musuh dari luar – tapi justru bersembunyi di dalam rumah sendiri (alias pengkhianat bangsa).

Pelajaran dari Iran, bukan berarti Indonesia harus menentang semua negara, atau memutus hubungan diplomatik dengan dunia luar. Yang harus diadopsi adalah semangat juang dan tekad serta strategi kemandirian Iran walau dalam tekanan.

* Tekad Kemandirian yang tak tergoyahkan – Indonesia harus berani berkata : “Kita mampu membuat sendiri segala sesuatu yang dibutuhkan bangsa”. Berhenti menjual bahan mentah, bangun industri pengolahan dalam negeri”.

* Pendidikan sains dan teknologi sebagai prioritas utama – Alokasikan anggaran besar untuk pendidikan dan riset. Lulusan perguruan tinggi harus mampu menciptakan teknologi, bukan sekedar pencari kerja.

* Swasembada pangan, obat-obatan, energi dan pertahanan – hal-hal yang menyangkut keselamatan nyawa bangsa tidak boleh bergantung pada izin negara lain – seperti urusan pangan dan kesehatan.

* Diverifikasi mitra dagang dan De-dollarisasi – Perluas kerjasama dengan sesama bangsa yang adil, kurangi ketergantungan pada mata uang asing dan sistem pembayaran yang dikendalikan pihak asing.

* Pemimpin yang amanah dan bersatu padu dengan rakyat – Tanpa korupsi, tanpa pengkhianatan terhadap rakyat, kekayaan alam adalah amanah untuk kemakmuran seluruh rakyat, bukan elit atau perseorangan maupun kelompok.

* Ketabahan dan kesungguhan jangka panjang – Kemandirian tidak tercapai dalam satu masa jabatan. Maka, harus ada cetak biru yang dijalankan secara bertahap, dengan konsisten, tidak boleh berubah meski rezim berganti – jangan sampai ganti presiden ganti pula kebijakan sesuai visi missi secara pribadi.

Iran membuktikan : negara yang dikepung dunia mampu maju jika bertekad mandiri. Maka, Indonesia yang dikaruniai kekayaan alam dan posisi yang strategis – pasti mampu bangkit dari keterpurukan asal ada kemauan bersama di hati pemimpin yang amanah dan rakyat yang tulus bersatu padu.

Kesimpulan dan Penutup

Embargo 48 tahun terhadap Iran melahirkan satu tesis kebenaran agung :

“Ketergantungan adalah sumber kehinaan dan kemiskinan bangsa”. Kemandirian walau berawal dari keterpaksaan adalah jalan menuju kemuliaan dan kejayaan”.

Iran maju karena dipaksa berdiri sendiri. Indonesia terpuruk karena dibiarkan dan dipelihara untuk terus bergantung dan dikendalikan – bukan karena keterbatasan kemampuan, melainkan karena ketidakjujuran dan ketidakamanahan para pemimpin.

Maka, pelajaran yang harus diambil sangat jelas adalah :

* Bukan isolasi yang kita butuhkan, melainkan kemandirian yang harus kita bangun

* Bukan permohonan bantuan yang kita langgengkan, tapi penguasaan atas Kekayaan alam sendiri untuk diolah dalam negeri

* Bukan utang luar negeri yang harus terus kita tambah, melainkan berupaya merancang pembangunan berbasis kemampuan sendiri

* Bukan penting rezim berganti berkali-kali, tapi bersihkan para pengkhianat dan pelaku korupsi dari tubuh birokrasi bangsa dan negeri ini.

Jika Iran mampu bangkit di tengah kepungan musuh, bagaimana mungkin Indonesia – tidak mampu bangkit dari keterpurukan, saat :

* Sumber kekayaan alam kaya raya

* Wilayah negeri luas, penduduk banyak, serta

* Bebas sanksi

Tidak mungkin. Yang kurang hanya :

Kejujuran, keteguhan tekad dan kebersamaan seluruh anak bangsa. Semoga masih ada nurani yang terus menggulung, menggelora. Mengkristal bangkit bersama menyapu keterpurukan ini insyaAlloh. Wassalam

M. Sangap Siregar, S.Pd. MA, adalah : Dosen Universitas Hang Tuah Pekanbaru Riau, Alumni : Magister Psikologi Konseling University Kebangsaan Malaysia, 2004

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *