Setengah Abad Perjuangan: Kisah Budak Selat Panjang Melawan Korporasi Hitam

Judul: Dari Tanah Jantan Membela Hutan
Penulis: Dr. Elviriadi
Penyusun: Zurkarnain
Penerbit: Asa Riau (CV. Asa Riau)
Tebal: 156 halaman
Cetakan: Pertama, 2026
Peresensi: Zurfami

Buku setebal 156 halaman ini merekam kisah heroik, kesederhanaan, dan obsesi Dr. Elviriadi dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan dan hak-hak masyarakat.

Bacaan Lainnya

Lewat judul Dari Tanah Jantan Membela Hutan, pembaca diajak mengenal sosok “Budak dari Selat Panjang” yang teguh menolak kompromi dengan korporasi.

Salah satu prinsipnya yang dikutip dalam buku ini menjadi penegasan sikap:
“Lebih baik makan nasi dengan garam daripada menerima oleh-oleh dari korporasi hitam.”

Isi: Kumpulan Gagasan dan Aksi Nyata di Lapangan
Diterbitkan pada 2026, buku ini merangkum sepak terjang Dr. Elviriadi selama setengah abad. Mulai dari pembelaan hak-hak lahan masyarakat, kritik terhadap perusakan hutan, polusi Daerah Aliran Sungai DAS, hingga limbah perusahaan.

Gagasan-gagasannya tidak hanya disampaikan di forum diskusi dan seminar, tetapi juga sebagai saksi ahli di persidangan dan melalui tulisan di berbagai media massa.

Kekuatan buku ini terletak pada formatnya. Bukan biografi kronologis kaku, melainkan kumpulan testimoni dan pengakuan dari puluhan tokoh yang pernah berjuang bersama atau mengenal Dr. Elviriadi.

Beberapa di antaranya:

  1. Azizon Nurza, Profesional asal Riau berprestasi di IEEA 2025: “Dr. Elviriadi: Konsisten di Garis Rakyat”
  2. Brigjen TNI (Purn) Edi Natar Nasution, S.I.P., Mantan Wakil Gubernur Riau: “Merubah Ketidakadilan dengan Bismillah”
  3. Satria Antoni, Ph.D., Praktisi Migas: “Pejuang Tanpa Tanda Jera, Intelektual Organik dari Bumi Lancang Kuning”

Nama-nama lain seperti Hendrio Efriawan, Jhoni Mundung, Muhammadun, Zainuddin Syafie, Guswanda Putra, Buya Syafulah, Masriadi, H. Mambang Mit, Pengurus FKPMR, hingga Kapolda Riau Irjen Pol. Herry Heryawan juga turut memberikan kesaksian.

Kelebihan dan Kekurangan Buku
Kelebihan:
Buku ini terasa hidup dan personal. Pembaca bisa merasakan semangat juang Dr. Elviriadi dari berbagai sudut pandang. Pesan utamanya relevan di 2026: konsistensi, keberpihakan kepada rakyat, dan cinta lingkungan.

Ia digambarkan sebagai sosok yang rela naik travel, makan di warung sederhana, dan menginap di tempat seadanya demi mendampingi masyarakat. Hingga usia 50 tahun, ia tetap aktif sebagai dosen di UIN Suska Riau, saksi ahli di pengadilan, dan aktivis.

Salah satu perjuangan yang disorot adalah soal hak plasma 20% bagi masyarakat sekitar perusahaan kelapa sawit pemegang HGU. Bagi banyak warga Riau, Dr. Elviriadi menjadi tumpuan harapan.

Kekurangan:
Karena alurnya non-kronologis, pembaca yang baru mengenal Dr. Elviriadi mungkin perlu usaha lebih untuk merangkai linimasa perjuangannya secara utuh.

Kesimpulan dan Rekomendasi
Dari Tanah Jantan Membela Hutan adalah dokumentasi penting tentang dedikasi seorang intelektual organik yang memilih berpihak kepada rakyat dan alam.

Buku ini layak dibaca mahasiswa, aktivis, akademisi, dan siapa saja yang ingin belajar tentang keteladanan dan konsistensi dalam membela lingkungan.

Sebagaimana pengingat Dr. Elviriadi: ia berjuang agar “anak cucu tidak kepunahan telow temakol” — kalimat sederhana tapi penuh makna tentang tanggung jawab kita menjaga bumi untuk generasi mendatang.


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *