Larantuka,-InfoZone| Rapat pemantapan tuan rumah ETMC XXXV di Stadion Ile Mandiri, Larantuka, Flores Timur, Rabu (3/11/2026), berlangsung panas. Bukan hanya soal kesiapan stadion, tetapi juga dugaan pemborosan anggaran live streaming senilai Rp169 juta yang memicu protes keras sejumlah peserta rapat.
Dalam forum tersebut, muncul desakan tegas agar kerja sama live streaming dengan pihak ketiga yang ditunjuk Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Flores Timur segera dibatalkan.
Anggaran Rp169 juta dinilai terlalu besar, terlebih kondisi keuangan panitia ETMC XXXV saat ini masih terbatas dan harus membiayai berbagai kebutuhan penyelenggaraan turnamen sepak bola terbesar di NTT tersebut.
Penunjukan Mitra Kominfo Dipertanyakan Sejumlah peserta rapat mempertanyakan mekanisme penunjukan pihak ketiga untuk menangani live streaming ETMC. Dinas Kominfo Flotim disebut telah menentukan mitra tanpa melalui pembahasan terbuka bersama panitia.
Padahal, sumber pendanaan ETMC tidak semata-mata berasal dari APBD, melainkan juga dukungan pihak ketiga, Pemerintah Provinsi NTT, Bank NTT, penjualan tiket, hingga pendapatan parkir.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana penyelenggaraan ETMC.
“Ini uang yang dikumpulkan untuk kepentingan bersama. Jangan sampai pengelolaannya dilakukan tanpa melibatkan panitia secara terbuka,” demikian kritik yang mengemuka dalam rapat.
Proposal Murah dan Gratis Tak Digubris?
Sorotan semakin tajam setelah peserta rapat mengungkap adanya sejumlah alternatif kerja sama live streaming dengan biaya lebih murah, bahkan gratis.
Beberapa nama yang disebut menawarkan opsi penyiaran antara lain TVRI, AFB TV, Garuda TV, Metro TV, serta media streaming milik Asprov PSSI NTT.
Peserta rapat mempertanyakan alasan Kominfo memilih mitra dengan nilai kerja sama Rp169 juta, sementara alternatif lain dinilai dapat menekan beban anggaran panitia.
“Kenapa tawaran yang murah dan gratis tidak dimanfaatkan? Mengapa justru anggaran Rp169 juta yang harus dikeluarkan?” menjadi pertanyaan yang mengemuka.
Namun, mekanisme penawaran, ruang lingkup layanan, serta perbandingan teknis dan biaya dari masing-masing calon mitra masih perlu diklarifikasi.
Kualitas Siaran dan Kepastian Pendapatan Dipertanyakan
Selain persoalan anggaran, kesiapan teknis live streaming juga menjadi sorotan.Peserta rapat mempertanyakan kemampuan jaringan internet di Larantuka untuk mendukung siaran langsung pertandingan ETMC yang diperkirakan menarik perhatian masyarakat di seluruh NTT hingga diaspora Flores Timur di luar negeri.
Potensi gangguan jaringan, siaran terputus, hingga buffering menjadi kekhawatiran tersendiri.
Pertanyaan lain yang tak kalah penting adalah kepastian pendapatan dari kerja sama live streaming tersebut.
Jika panitia harus mengeluarkan Rp169 juta, berapa pemasukan yang dapat dikembalikan kepada kas panitia?
Hingga rapat berlangsung, belum ada angka pasti mengenai potensi pendapatan yang akan diperoleh panitia dari layanan penyiaran tersebut.
Peserta rapat menilai, tanpa perhitungan bisnis yang jelas, pengeluaran sebesar itu berpotensi menjadi beban tambahan bagi penyelenggara.
Dugaan Konspirasi Korporatif harus diklarifikasi dalam rapat juga mencuat dugaan adanya permainan kepentingan dalam penunjukan mitra live streaming.
Sejumlah peserta menyoroti pola penunjukan yang dipersoalkan, pengabaian alternatif kerja sama yang lebih murah, serta besarnya nilai anggaran yang disiapkan.
Dugaan tersebut bahkan mendorong desakan agar Inspektorat dan aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan apabila ditemukan indikasi penyimpangan.
Meski demikian, dugaan konspirasi korporatif tersebut belum terbukti dan memerlukan klarifikasi dari pihak-pihak terkait.
Keuangan Panitia terbatas, kebutuhan ETMC menumpuk. Berdasarkan laporan Seksi Usaha Dana dalam rapat, estimasi pendanaan sementara ETMC XXXV meliputi:
Sumbangan Pemerintah Provinsi NTT: Rp500 juta. Dukungan Kantor Pusat Bank NTT: Rp500 juta. Dukungan Ahmad Yohan: Rp200 juta. Bupati Flores Timur: Rp5 juta. Wakil Bupati Flores Timur: Rp3,5 juta. Sumbangan 33 kepala OPD masing-masing Rp1 juta: Rp33 juta. Saldo kas di rekening Bank NTT saat ini: Rp200 juta.
Dana tersebut masih harus menopang berbagai kebutuhan, mulai dari akomodasi lebih dari 20 tim peserta, konsumsi, keamanan, perangkat pertandingan, hadiah, hingga operasional stadion.
Dalam kondisi demikian, pengeluaran Rp169 juta untuk live streaming dinilai perlu dikaji ulang secara serius.
Peserta rapat berpendapat dana tersebut lebih bermanfaat apabila dialokasikan untuk kebutuhan mendesak, seperti perbaikan fasilitas stadion, penambahan toilet, serta mendukung operasional panitia.
Wakil Bupati Ignas Uran Didesak Ambil Keputusan
Rapat pemantapan yang dipimpin Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, S.Fil., akhirnya diwarnai desakan agar kerja sama live streaming dengan pihak ketiga yang ditunjuk Kominfo dibatalkan.
Peserta rapat meminta panitia memprioritaskan alternatif penyiaran yang lebih efisien, baik melalui stasiun televisi maupun media streaming yang telah menawarkan kerja sama.
Desakan tersebut juga menjadi alarm bagi pemerintah daerah agar pengelolaan anggaran ETMC dilakukan secara transparan, terukur, dan mengutamakan kepentingan penyelenggaraan turnamen.
Kini, keputusan berada di tangan Wakil Bupati Ignas Uran bersama panitia dan pihak terkait.
Apakah kerja sama live streaming senilai Rp169 juta akan dibatalkan, atau tetap dipertahankan di tengah polemik yang berkembang?
ETMC XXXV bukan sekadar turnamen sepak bola. Ini adalah kebanggaan masyarakat Flores Timur. Karena itu, setiap rupiah yang digunakan harus dapat dipertanggungjawabkan.







