PARIS, INFOZONE – Prancis menghitung kerugian setelah ratusan ribu orang turun ke jalan secara nasional, dalam mobilisasi terbesar sejak protes reformasi pendidikan dan kenaikan harga dimulai bulan lalu.
Di Place de la Republique, jantung ibu kota Prancis, warga pada Minggu (19/10) menyaksikan kerusakan hari sebelumnya dengan kecewa: jendela pecah, bangunan hangus, toko-toko dijarah.
“Saya rasa hal ini tidak dapat diterima – benar-benar tidak dapat diterima,” kata Rabah, warga yang sudah tinggal di Paris lebih dari 70 tahun. Warga lainnya, Claire (56) mengaku marah melihat Paris seperti itu. Patung Marianne, simbol Republik Prancis, dipenuhi grafiti bertuliskan ” Siapa yang menanam kesengsaraan akan menuai kemarahan.”
Demo yang dipimpin pelajar ini dimulai pertengahan September akibat kelas yang terlalu penuh, kekurangan guru, hingga ketimpangan sistemik. Gerakan ini kemudian meluas dan menggandeng Gilets Jaunes (Rompi Kuning), aktivis iklim, hingga petani dengan isu biaya hidup dan harga BBM.
Pada Sabtu (18/10), massa mencapai 550.000 orang menurut pemerintah, dan 800.000 versi penyelenggara. Meski mayoritas damai, kerusuhan skala besar mengancam pesan mereka.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyebut hampir 1.800 orang ditangkap, hampir separuh di Paris, dan lebih dari 500 polisi, gendarme, dan pemadam kebakaran terluka.
” Berdemonstrasi adalah hak mendasar. Menimbulkan kekacauan melalui kekerasan dan secara bersama-sama bukanlah sebuah hak.” katanya.
Di Marseille, puluhan toko dijarah dan sekelompok orang menerobos balai kota. Di Limoges, rekaman menunjukkan api melalap balai kota bersejarah. Bangunan publik juga rusak di Bordeaux.
Presiden Emmanuel Macron yang masa jabatan keduanya akan berakhir tahun depan dijadwalkan memberikan pidato televisi pada pukul 18:00 GMT Minggu malam setelah rapat dengan menteri.
Polisi juga disorot. Inspektorat polisi IGPN telah membuka 36 penyelidikan atas dugaan kekerasan polisi sejak protes SMA dimulai.
Sumber: Al Jazeera – Virginia Pietromarchi, 18 Okt 2026







