Ilustrasi/ Foto : Al
Pekanbaru, Infozone – Sedikitnya 16 warga di Kota Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, terluka akibat serangan seekor kera atau monyet liar sejak akhir Juli 2026. Hewan primata tersebut menyerang warga secara mendadak di kawasan permukiman padat dan pinggiran sungai.
Korban serangan monyet liar di Kota berjuluk Negeri Seribu Parit itu bahkan bertambah menjadi 14 orang. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Inhil, Junaidi Ismail, mengatakan serangan monyet tersebut sudah terjadi 15 kali.
Jumlah serangan monyet sudah 15 kali, dengan korban 14 orang. Ada satu orang yang diserang dua kali,” kata Junaidi kepada salah satu media melalui sambungan telepon, Selasa (4/8/2026).
Dia menyebut, seluruh korban telah diberikan penanganan medis, termasuk disuntik vaksin untuk mencegah rabies.
Kru Infozone co.id bertindak sigap menghubungi pakar lingkungan Dr Elviriadi.
“Saya dah dengar itu. Jelas habitat monyet itu dah dirampok manusia. Saat ini bumi kita sudah diisi perampok, begal uang rakyat, mafia tanah, perampas hak monyet. Rata rata necis berdasi, ” ujar Dr Elv Rabu malam (5/8/26).
Akademisi yang kerap jadi ahli di pengadilan ini melihat Riau sudah diambang kehancuran
“Tak ada lagi. Kebijakan semua mengarah pada pembinasaan alam. Kongkalikong dengan perusahaan. Menghancurkan hutan dan ekosistem wajib di Riau ini. Apooo tak menggigit monyet tak berdasi itu, ” ucap Alumni UKM Malaysia.
Kepala Departemen Restorasi Gambut Majelis Nasional KAHMI itu menilai dah tak ada tempat bagi satwa.
“Makanya konflik gajah, harimau sumatera, beruang, dan sekarang monyet. Target indonesia ini nampaknya mau menjadikan pohon itu duit, ranting duit, tanah duit, satwa duit, karbon pun duit ( karbon trading). Maneee ade melestarikan lingkungan. Apo tak dicakar manusia disitu. Masih untung tak “anu” tu tak di gigit dioo. Kalau itu betol kene, tepekiieekk laàaah, “pungkas anak Meranti yang ikhlas gundul permanen demi hutan Inhil.**
Editor : Redaksi









