Perundingan AS-Iran Buntu di Selat Hormuz: Pemblokiran Berlanjut, Mediasi Oman Dikebut

Oplus_131072

JAKARTA, Infozone – Perundingan antara Amerika Serikat `AS` dan Iran kembali menemui jalan buntu. Titik sengketanya kini berada di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui seperlima pasokan minyak dan LNG dunia saat normal.

Iran menegaskan tetap memblokir selat tersebut, sementara AS di bawah Presiden Donald Trump mengklaim memiliki “kendali penuh”. Di tengah kemelut ini, mediasi yang digalang Oman dan Qatar dikebut untuk membuka kembali jalur pelayaran.

Bacaan Lainnya

Melalui otoritasnya, Persian Gulf Strait Authority`PGSA`, Iran menyatakan lewat platform X pada Rabu `13/8/2026` bahwa klaim AS tidak mengubah fakta di lapangan.

“Klaim dan postingan berulang pejabat AS bahwa Selat Hormuz tidak lagi diblokir tidak mengubah kenyataan. Selat Hormuz tetap diblokir dan tidak akan dibuka sampai tuntutan Iran diterima,” tulis PGSA.

Pernyataan senada disampaikan Komandan Basij, Hojjatoleslam Hossein Taeb, yang menyebut selat itu berada “di bawah kendali dan manajemen Republik Islam Iran.”

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menuding AS melakukan “salah perhitungan yang lebih besar” dengan aksinya di Hormuz.

Presiden Donald Trump pada Rabu kembali menegaskan AS berada dalam “kendali total” atas Selat Hormuz. Namun data menunjukkan sebaliknya. Lalu lintas kapal di jalur sempit antara Iran dan Oman itu turun ke level terendah dalam sepekan akibat pemblokiran Iran.

Pada Selasa, pasukan AS bahkan menargetkan kapal berbendera Panama yang diduga menuju pelabuhan Iran di Teluk Oman karena tidak merespons peringatan.

Iran menegaskan saat ini tidak berunding langsung dengan AS. Fokus perundingan dialihkan ke Oman untuk membahas skema pengelolaan Selat Hormuz bersama di masa depan.

Juru bicara Kemenlu Qatar, Majed al-Ansari, pada Selasa menyebut negosiasi Iran-Oman telah mencapai “tahap lanjut”. Pembahasan difokuskan pada penetapan “jalur pelayaran masuk dan keluar yang aman” yang menghormati kedaulatan sekaligus menjawab kekhawatiran keamanan kedua negara.

Sebelumnya, MoU AS-Iran pada 17 Juni 2026 gagal berjalan karena perselisihan soal rute kapal dan pungutan biaya melintas. Akibatnya, permusuhan kembali memuncak.

Pakistan kini juga turun tangan sebagai mediator untuk mempertemukan AS dan Iran ke meja perundingan.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pekan lalu merilis 6 syarat agar Hormuz dibuka penuh:

1. Menghentikan ancaman AS dan penghinaan terhadap nilai nasional dan agama Iran

2. Menghentikan permanen serangan AS terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak

3. Mencabut blokade laut AS dan menarik pasukan laut serta udara dari sekitar Iran

4. Kompensasi atas kerusakan akibat “dua perang yang dipaksakan”

5. Pencabutan sanksi

6. Pelepasan tanpa syarat aset Iran yang dibekukan

Sebagai jawaban, Trump Senin lalu menyatakan AS akan menuntut ganti rugi “50 tahun” kerusakan dari Iran.

Pengamat dari _Middle East Institute_, Alan Eyre, menilai satu-satunya negosiasi penting saat ini adalah Iran-Oman. “Iran tidak bisa mengandalkan apa yang dikatakan AS,” ujarnya.

Sementara Negar Mortazavi dari _Center for International Policy_ menilai, jika kedua pihak mau kompromi masih ada jalan untuk mengakhiri konflik dan membuka selat. “Jika tidak, Hormuz bisa tetap tertutup dan konfrontasi berisiko menjadi konflik terbuka berkepanjangan di Timur Tengah,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada kesepakatan resmi terkait pembukaan Selat Hormuz.

 

Sumber: Al Jazeera

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *