Oleh: Elviriadi, Ph.D
Menjadi dosen disebut pula seorang akademisi. Sebutan itu bukan tanpa beban. Malah menyimbolkan konsekuensi dan tanggung jawab. Ada 5 tanggung jawab seorang akademisi. Oh ternyata lima, bukan tiga. Berarti dari Tri Dharma Menuju Panca Dharma.
Pertama, pendidikan dan pengajaran. Kedua, penelitian, ketiga pengabdian. Ini yang biasa kita dengar. Namun diluar kelaziman baku diatas, rupa-rupanya terdapat dua lagi, yakni kewajiban sebagai hamba yang taat dan kewajiban menciptakan peradaban.
Mari kita ulas. Pendidikan dan pengajaran penuhi tatap muka di kelas, buat buku teks ajar, periksa ujian dan laporan peserta didik.
Penelitian ini sudah menyatu dalam denyut nafas seorang dosen. Tujuan normalnya agar dia bisa mengisi BKD, SKP berjenjang, dan tunjangan. Tapi motif luhurnya adalah membuang sifat miskin kreativitas, miskin ide, lesu depan laptop, ngantuk-an dan hidup tanpa karya.
Segera lah kembali ke pangkal jalan, bila dia tidak mau meneliti. Insyaf dan koreksi diri. Kalau tak mau masuk kelas, tak ada penelitian, marketop (malas ragu ketik laptop) lebih baik berhenti jadi dosen. Pilih profesi nyantai nir intelektual daripada makan gaji setengah buto, Wak!
Jalan akademisi bukan laluan bertabur kebebasan tanpa karya ilmiah. Jangan berdalih cari nafkah samperan, gaji tak cukup bro, harga barang naik mem-bulan mem-bintang.
Jalan akademik jalur keagungan zuhud, siap berlapar hidup seadanya. Tak pernah takut periuk kosong beras tinggal antah. Lalu tergoda ngojek, jual madu kueh baholu sampai tak ada cita rasa penuntut ilmu.
Ada pula yang sibuk dengan dunia luar atas nama pengabdian sosial, aneka dakwah, sukarelawan dan seabrek kesibukan sampingan.
Wahai, ingatlah sumringah seawal diterima mengajar sebuah universitas. Seolah puncak cita-cita telah di pelupuk mata. Siap begadang menanggung derita. Depan kelas dan labor badan betanggang hati gembira. Tapi kini mengapa hampa?
Namun ada pula akademisi yang gemilang dalam riset, jurnal tumpas olehnya dari Sinta 5 sampai Elsevier Scopus High Impact, tekun mengajar pula.
Tapi bila disuruh atasan menekan demokrasi mahasiswa dia oke juga. Memainkan kwitansi penelitian dana gede dia ketularan juga.
Apa yang terjadi di tetangganya, riuh kemungkaran ia apatis tanpa suara. Di kampus uang halal haram, manipulasi bill hotel hal biasa, dia pun ikutan awalnya. Lama-lama tambah menggila, inisiator penggoda.
Dharma keempat yaitu sebagai hamba yang taat ia terlupa. Karir mentereng Kajur, WD, WR, kembali ke Kajur, Kapus, terus dalam lingkaran hubbuddunia wal jabatania
Panca Dharma sang Akademisi tentu tak mudah. Mulai seorang guru, pendidik, peneliti, pengabdi, hamba Allah, pencipta peradaban dan sejarah. Dari tradisi riset hendaknya kau temukan kebesaran Allah. Semakin disiplin reviewer jurnal global, semakin disiplin shalat 5 waktu.
Semakin dalam samudra ilmu, disitu setan tempat seteru. Cinta dunia bin kwitansi bill hotel idfa’ billati hiya ahsan. (Tolak dengan kelembutan Qolbu tanpa riya’ di hatimu). Maka medan quantum fikir zikir pasti mempertemukan sang jujur (mengajar 16 tatap muka), karsa karya cipta, inovasi, perubahan, Scopus Sinta 2, laptop betanggang, iqro’ ke relung labirin rindu Sang Maha Rahman.**_
PENULIS:
Elviriadi, Ph.D – Akademisi UIN Suska Riau





