RUPAT, Infozone – Antusiasme menjaga warisan sejarah meluas. KKSSI, Unsur Pimpinan Kecamatan Upika, aktivis, hingga insan media bersatu melakukan ekspedisi dan ziarah di Kompleks Makam Situs Sejarah Reino De Rupat di Kelurahan Terkul, Kecamatan Rupat.
Kegiatan berlangsung khidmat selama 2 hari, 15-16 Agustus 2026, dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Wilayah Terkul dulunya merupakan bagian dari Penghulu Kampong Batupanjang.
Rangkaian hari pertama, Sabtu 15/8/2026, dibuka rombongan Kekerabatan Kesultanan Siak Sri Indrapura KKSSI Dumai Barat dan Dumai Timur.
Rombongan bersilaturahmi ke kediaman Dato’ Abulizar dari KKSSI Pusat di Jalan Soebrantas Terkul. Dalam diskusi terungkap keprihatinan atas ancaman abrasi pesisir yang telah menggerus daratan sejauh 200-250 meter hingga mengancam keberadaan nisan-nisan bersejarah di tepi pantai.
Di sela penelusuran, tim KKSSI menyampaikan pesan penting. Mereka mengimbau masyarakat terus menjaga dan merawat situs sejarah ini agar tidak hilang ditelan zaman di bumi Melayu.
“Bagi kami, keberadaan situs ini memiliki keterkaitan erat dengan risalah Rasulullah SAW dalam menegakkan syiar Islam pada masa lampau,” ujar perwakilan KKSSI.
Puncak kegiatan pada Minggu 16/8/2026 semakin semarak. Hadir Unsur Pimpinan Kecamatan `Upika` Rupat terdiri dari Camat Rupat beserta jajaran, Kapolsek Rupat, Danramil Rupat, Kepala KUA Kelurahan Batu Panjang, dan jajaran MUI Kelurahan Batu Panjang, bersama tokoh masyarakat lokal.
Ziarah kian berkesan dengan hadirnya masyarakat umum dan rekan dari luar daerah yang baru pertama kali menginjak situs sejarah di Jl. Keramat Kel. Terkul.
Dalam penelusuran dari tepi laut hingga daratan Terkul, Dato’ Abulizar didampingi Aktivis Sosial Lingkungan dan Kehutanan Salikhin, S.Sn. yang aktif dalam eksplorasi fisik dan pengawalan pelestarian kawasan.
Dato’ Abulizar menegaskan keberhasilan menjaga situs ini karena gotong royong lintas elemen.
“Bukan hanya Dinda Salikhin, tetapi banyak rekan-rekan lainnya yang turut aktif mengeksistensikan situs sejarah ini. Mulai dari kawan-kawan media, kawan-kawan kelembagaan, hingga para pegiat budaya yang tanpa lelah membantu mempublikasikan warisan bersejarah ini,” tutur Dato’ Abulizar.
“Rekam jejak kolaborasi dan perjuangan ini bisa kita lihat bersama dalam catatan historis, baik di media sosial maupun media massa,” lanjutnya.
Sinergi antara KKSSI Pusat, pemerintah daerah, akademisi, aktivis lingkungan, pegiat budaya, dan insan pers ini menjadi titik balik penting. Tujuannya mendorong penetapan cagar budaya resmi sekaligus penanganan abrasi demi menyelamatkan warisan peradaban Melayu Riau dan syiar Islam di tanah Rupat.
Sumber: Dokumentasi Kegiatan | 15-16 Agustus 2026








