YONGIN, INFOZONE – Pelatih bola voli putri Hyundai Construction, Kang Sung-hyung (56), menyiapkan perubahan besar jelang V-League musim baru 2026-2027. Hal itu disampaikan dalam wawancara di pusat latihan Hyundai Construction, Yongin, pada 15 September 2026, atau sekitar 50 hari jelang pembukaan liga.
Perubahan tersebut dipicu pensiunnya sang legenda Yang Hyo-jin (37) yang selama 19 musim menjadi pilar tim. Hyundai yang sempat menjadi juru kunci musim 2020-21, bangkit dengan rekor kemenangan 90 persen (27 menang 3 kalah) musim berikutnya dan selalu finis peringkat 1 atau 2 dalam 5 musim terakhir di bawah asuhan Kang sejak Maret 2021.
“Eun-jin telah berperan banyak, jadi saya khawatir tingginya menurun. Sekarang saya mencoba bermain voli yang mencetak banyak poin dari sisi samping,” ujar Kang.
Untuk mewujudkan taktik tersebut, Hyundai merekrut dua pemain asing baru: outside hitter Jordan Wilson (23) sebagai pemain asing utama dan opposite spiker Megawati Pertiwi (27) dari Indonesia sebagai kuota Asia, untuk memperkuat sisi sayap menggantikan serangan tengah yang sebelumnya mengandalkan Yang Hyo-jin.
“Memang ada kesulitan karena pemain berganti, tapi di sisi lain ada kegembiraan tentang gaya voli yang berbeda,” kata Kang. Jika sebelumnya tim lebih kuat di pertahanan, musim depan ia ingin menampilkan voli yang lebih menyerang.
Kang juga bertekad memutus tren dua musim beruntun finis peringkat 2 musim reguler namun tersingkir di playoff setelah juara terpadu musim 2023-24.
Pelatih yang pernah menjadi asisten pelatih timnas putri Korea pada 2019 ini juga menaruh perhatian besar pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Hyundai menjadi penyumbang pemain terbanyak ke timnas dengan 3 nama: Lee Ye-rim, Kim Da-in, dan Na Hyun-soo.
Ia optimistis Korea bisa merebut medali setelah menjuarai AVC Cup Juni lalu sebagai titik balik, setelah beberapa tahun kesulitan di turnamen internasional.
Untuk pengembangan jangka panjang, Kang bahkan merekrut pelatih asal Jepang secara langsung atas keputusannya sendiri, karena menilai voli Korea tidak bisa seperti “katak dalam tempurung” dan harus belajar dengan sikap terbuka, mencontoh Thailand yang sukses meloloskan diri ke Olimpiade untuk pertama kalinya setelah banyak pemainnya berkarier di luar negeri.
Sumber: Seoul Shinmun – 18 September 2026 – Reporter Ryu Jae-min








