PONOROGO, Infozone – Dentuman kendang pecah di Alun-alun Ponorogo, Minggu 14/6/2026. Ribuan pasang mata terpaku liat para penari gagah memanggul “dadak merak” seberat 30-40 kg.
Itu suasana Festival Nasional Reog Ponorogo FNRP 2026. Kesenian khas Jawa Timur yang baru aja diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia ini kembali unjuk gigi.
FNRP 2026 nggak main-main. Ada 32 grup Reog dari berbagai daerah di Indonesia yang datang ke “rumah” Reog.
Mereka nggak cuma nari. Tapi kasih interpretasi beda-beda soal Reog warisan leluhur. Ada yang lebih garang, ada yang lebih teatrikal. Sorak penonton pecah tiap ada atraksi dadak merak muter.
UNESCO Akui, Makna FNRP Makin Berat
Penyelenggaraan tahun ini berasa beda. Soalnya Reog Ponorogo resmi masuk daftar UNESCO.
Pengakuan dunia itu bikin FNRP jadi nggak cuma festival biasa. Tapi jadi bukti kalau budaya kita dijaga, dunia pun ngakuin.
“Pelestarian budaya nggak cukup disimpan di museum. Harus dipentaskan, dikenalkan ke generasi baru,” begitu pesan yang kebaca dari festival ini.
Dadak Merak: Simbol Kekuatan yang Bikin Merinding
Puncaknya ya pas atraksi dadak merak. Topeng raksasa dari kepala harimau + bulu merak asli, dipanggul penari tanpa bantuan tangan.
Energi, tenaga, sama jiwa tradisi jadi satu di situ. Nggak heran ribuan pengunjung dari luar kota rela jauh-jauh ke Ponorogo cuma buat liat ini.
Pelajaran Buat Kita: Budaya Hidup Kalau Terus Ditampilkan
Di tengah gempuran TikTok sama K-Pop, FNRP jadi pengingat. Tradisi bisa tetap keren kalau dikasih panggung.
Reog nggak mati. Reog terus menari, dan terus relevan buat anak muda sekarang.
Penulis: Tim Infozone | Sumber: http://Indonesia.go.id/ANTARA FOTO Muhammad Mada






