RITAEBANG KERING! Bayar Iuran Rp120 Ribu, Warga Tetap Beli Air Setengah Juta Sebulan

LARANTUKA, Infozone – Krisis air bersih Ritaebang di Kecamatan Solor Barat, Flores Timur, bukan lagi keluhan, tapi sudah jadi penderitaan. Sejak Juni 2026, keran warga di Lingkungan Ritaebang I dan II mati suri. Warga harus duduk berderet bawa jerigen kosong, menunggu air keluar 5 menit dengan aliran sekecil lidi.

Pantauan Awak media Minggu (25/10/2026), potretnya miris. Emak-emak, bapak-bapak hingga anak-anak duduk berderet menenteng jerigen kosong, menanti air yang hanya keluar 5 menit dengan aliran sekecil lidi, lalu mati.

Bacaan Lainnya

Sudah 4 bulan lebih warga hidup dalam antrean

“Warga sudah lapor ke pengelola air, sudah ke kelurahan. Jawabannya selalu sama, masih dalam proses pembenahan,” kata Maxi Werang, warga Ritaebang.

Beli Air yang Seharusnya Mengalir

Yang paling mencekik, di tengah kemarau warga dipaksa membeli air. Harga selangit untuk ukuran kampung.

Rp25 ribu per drum. Rp50 ribu untuk tiga drum. Satu keluarga bisa habis Rp500 ribu sebulan hanya untuk minum, masak, mandi, dan cuci.

Ironisnya, kewajiban iuran tahunan Rp120 ribu per rumah kepada pengelola tetap wajib dibayar. Tidak ada dispensasi meski air tak mengalir.

“Bayar tetap jalan, pelayanan malah semakin buruk. Warga mempertanyakan transparansi penggunaan dana tersebut,” ungkap Maxi.

Kecurigaan warga makin menjadi karena ketimpangan distribusi terlihat kasat mata. Di beberapa titik di Lingkungan Augelarang, air mengalir deras bahkan melimpah. Sementara di Lingkungan I dan II, warga harus berebut tetesan.

“Mengapa ada wilayah yang mendapat pasokan cukup, sementara kami harus membeli air dengan harga mencekik?” tanya Maxi.

Sumur Bor 20 Meter Jadi Pajangan

Agustus lalu harapan sempat tumbuh. Pihak ketiga membiayai sumur bor sedalam 20 meter di Augelarang. Warga mengira krisis selesai.

Tapi sumur itu hingga kini hanya jadi pajangan. Meteran listrik dan tandon tak kunjung dibeli, sehingga tak bisa dioperasikan. Warga menduga sisa dana pembangunan raib.

Sekretaris Lurah Ritaebang, Marselinus Madopain Tukan, membantah dugaan itu. Ia merinci biaya yang besar.

“Biaya bor dan belanja awal 40 juta. Biaya angkut mesin dan material Lembata-Solor PP 11 juta. Pemasangan meteran listrik daya 2.200 kWh 4,7 juta. Sedangkan dana yang kami terima dari pihak ketiga hanya 60 juta,” jelasnya.

Menurutnya meteran sebenarnya sudah ada, namun terkendala jaringan pipa.

“Jadi kami masih mencari bantuan lagi agar bisa melayani masyarakat. Kalaupun tidak dapat bantuan lagi, kami akan menanti perbaikan jaringan air dengan dana pembangunan kelurahan tahun 2026. Baru pipa lama bisa dipakai untuk sumur bor,” katanya.

Janji perbaikan masih jauh, tahun 2026. Sementara warga Ritaebang sore ini masih harus duduk berderet, menunggu keran menangis lima menit. Bagi mereka, air bukan lagi soal bersih atau kotor. Tapi soal bisa bertahan hidup atau tidak.(*RS/Tim)

 

Pasang Iklan di Infozone - 5000+ pembaca

👆 Klik untuk Pasang Iklan - Mulai 5.000+ / hari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *