Talud Kalike Hancur Dihantam Ombak, Jalan Utama Solor Selatan Terancam Putus

InfoZone,-Flores Timur | Hantaman gelombang besar yang terus menerus menerjang pesisir selatan Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur, akhirnya meruntuhkan talud pengaman di Desa Kalike.

Talud yang selama ini menjadi benteng pelindung jalan kabupaten kini mengalami kerusakan parah. Reruntuhan beton membentang hingga hampir 800 meter di sepanjang pesisir.

Kerusakan tersebut bukan lagi sebatas retakan atau kerusakan ringan. Struktur talud yang dibangun sejak masa kepemimpinan mantan Bupati Flores Timur, Yosni Herin, untuk menahan gempuran ombak kini patah dan roboh.

Kondisi ini membuat jalan utama yang menghubungkan Desa Kalike dengan Desa Lemanu dan sejumlah wilayah di sekitarnya terancam putus.

Bagi masyarakat setempat, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut akses transportasi, tetapi juga keselamatan serta keberlangsungan aktivitas sosial dan ekonomi warga.

Pantauan di sepanjang bibir pantai menunjukkan sisa-sisa beton talud yang roboh berserakan. Setiap kali gelombang besar datang, air laut semakin mendekati badan jalan dan terus mengikis tanah yang menjadi penopang jalan.

Ancaman tersebut juga semakin serius karena sejumlah fasilitas publik berada tidak jauh dari lokasi.

Kantor Camat Solor Selatan, Puskesmas, Pos Polisi hingga pekuburan umum warga disebut berada dalam posisi rawan apabila abrasi terus terjadi tanpa penanganan.Memasuki musim penghujan, kekhawatiran masyarakat semakin meningkat. Jika talud tidak segera diperbaiki, kerusakan jalan dikhawatirkan semakin meluas dan dapat mengganggu akses pelayanan publik.

Sudah Lama Disuarakan
Persoalan abrasi dan kerusakan talud Kalike sebenarnya bukan hal baru.

Setahun lalu, dalam rapat Badan Anggaran DPRD Flores Timur, anggota DPRD Flores Timur Yamin Lewar telah menyoroti kondisi pembangunan di wilayah Solor.

Ia menegaskan pembangunan di Solor tidak boleh terus diabaikan, terutama wilayah pesisir yang membutuhkan perlindungan infrastruktur dari ancaman abrasi.

“Di Solor ada manusia, ada ekonomi yang bergerak, dan fasilitas yang harus dilindungi. Kami tidak mau diabaikan terus-menerus,” ujar Yamin kala itu.

Sorotan juga diarahkan kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten Flores Timur terkait perhatian dan alokasi anggaran bagi wilayah tersebut.

Namun, rencana pemerintah daerah menjadikan rehabilitasi talud Kalike sebagai salah satu prioritas anggaran tahun 2026 hingga kini belum menunjukkan kepastian pengerjaan di lapangan.

Camat: Sudah Berulang Kali Diusulkan
Camat Solor Selatan, Benediktus M. Jawan, mengatakan kondisi talud Kalike telah berulang kali disampaikan melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), baik tingkat kecamatan maupun kabupaten.

“Kami sudah sampaikan, tapi sampai sekarang belum ada kepastian. Warga terus menunggu,” kata Benediktus saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (23/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan perhatian serius karena menyangkut akses utama masyarakat dan keberadaan sejumlah fasilitas pelayanan publik.

Sementara di lapangan, warga hanya bisa menyaksikan talud yang semakin hancur diterjang ombak.

Aktivitas ekonomi masyarakat ikut terdampak. Distribusi hasil kebun maupun hasil tangkapan nelayan menjadi lebih sulit ketika kondisi jalan dan pesisir semakin terancam.

Kekhawatiran juga meningkat setiap kali hujan dan gelombang besar terjadi.

Jika tidak segera ditangani, kerusakan dikhawatirkan menyebabkan desa-desa di wilayah Solor Selatan terputus dari jalur utama.Dampaknya dapat merembet pada akses masyarakat menuju pasar, sekolah, fasilitas kesehatan, serta pelayanan pemerintahan.

Lebih jauh, fasilitas publik yang berada dekat dengan garis pantai juga berpotensi terdampak apabila abrasi terus berlangsung.

Bagi masyarakat Kalike, talud tersebut bukan sekadar bangunan beton.

Talud merupakan benteng perlindungan yang selama ini menjaga badan jalan dan aktivitas kehidupan warga dari ancaman abrasi.

Kini, ketika benteng tersebut runtuh, bukan hanya jalan yang berada dalam bahaya, tetapi juga aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Warga pun kembali menunggu langkah konkret pemerintah daerah untuk menangani kondisi tersebut.

Harapan masyarakat sederhana: jalan tetap aman dilalui, fasilitas publik terlindungi, dan aktivitas kehidupan warga tidak terus dihantui ancaman abrasi.

Di tengah reruntuhan talud, suara ombak terus menghantam pesisir Kalike.

Bagi warga, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan kerusakan tidak bisa terus ditunda karena setiap gelombang berpotensi memperluas kerusakan yang sudah terjadi.

🚨 IMBauAN POLDA RIAU: STOP KARHUTLA 🚨

Larangan Membakar Hutan dan Lahan Polda Riau

ASAP MERUSAK KESEHATAN, API MERUSAK MASA DEPAN!
Pelaku Pembakaran: Penjara 15 Tahun | Denda Rp 5.000.000.000,-
Bersama Kita Cegah Karhutla, Wujudkan Riau Hijau Tanpa Asap

Laporkan titik api: Polsek | Polres | BPBD | Manggala Agni | Call 112

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *