Segel Lahan Kampung Nelayan, Petrus Nogoama Koten Sebut Pemda Flotim Tukang Janji dan Tak Punya Malu

Mudakeputu, Flores Timur, Infozone | Pemilik sah lahan proyek Kampung Nelayan Merah Putih di Desa Mudakeputu, Petrus Nogoama Koten akhirnya marah meledak. Ia menyegel lahannya secara permanen karena Pemerintah Kabupaten Flores Timur tak kunjung membayar ganti rugi tanaman yang sudah dirusak.

Lahan seluas 1.544 meter persegi itu kini ditutup total, tak bisa lagi disentuh siapa pun. Penutupan dilakukan Selasa, 30 Desember 2025 kemarin, disertai ritual adat sebagai bentuk perlawanan terhadap janji-janji palsu pemerintah.

Bacaan Lainnya

“Saya sudah muak! Pemerintah ini cuma bisa omong kosong. Janji dibayar November, sekarang sudah Januari, satu rupiah pun belum saya terima,” tegas Petrus, Minggu, 4 Januari 2026.

Ia menyebut Wakil Bupati Ignasius Boli Uran sebagai pihak yang menjanjikan pembayaran. Tapi nyatanya, janji itu hanya jadi angin lalu, tanpa realisasi sedikit pun.

Tak hanya kecewa, Petrus merasa ditipu mentah-mentah oleh pemerintah yang katanya pro rakyat. Ia menyebut mereka tak punya malu karena sudah merusak laham dan tanaman orang tanpa ganti rugi.

Petrus menegaskan bahwa penutupan lahannya bersifat permanen dan tak akan ada kompromi. Ia bahkan menolak mentah-mentah jika ada upaya mediasi dari pihak mana pun.

“Tidak ada mediasi! Saya sudah tutup pakai adat. Kalau mereka nekat masuk, itu sama saja melawan adat. Silakan tanggung sendiri akibatnya,” ujarnya garang.

Menurutnya, pemerintah Flores Timur sudah kehilangan muka di hadapan rakyat. Mereka hanya bisa berjanji, tapi tak pernah menepati. Petrus menyebut mereka sebagai “tukang janji” dan “penipu rakyat”.

Aksi Petrus ini langsung mengguncang ruang sidang DPRD Flores Timur. Empat anggota dewan yakni Hasan Basri, Ruth Wungubelen, Tinus Welan, dan Ato Agil langsung menyemprot pemerintah dalam rapat resmi pada Selasa, 30 Desember 2025 yang lalu.

Mereka menuntut Sekda Petrus Pedo Maran selaku Ketua TAPD segera menyelesaikan persoalan ini. Jika tidak, proyek Kampung Nelayan Merah Putih bisa bubar jalan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Flores Timur hanya menjawab normatif saat dikonfirmasi. Ia berdalih bahwa proses masih dalam tahap administrasi, tanpa ada kepastian kapan uang akan dibayar.

Petrus sendiri sudah menutup semua pintu kompromi. Ia menyebut harga dirinya lebih tinggi dari proyek mana pun. Ia tidak akan membuka lahan itu lagi, meski ditekan dari berbagai arah.

“Ini tanah saya, bukan tanah nenek moyang mereka. Kalau mau pakai, bayar dulu. Kalau tidak, silakan cari tempat lain,” katanya tajam.***

 

Rita Senak, S.E. Infozone melaporkan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *