Larantuka, Infozone| Pada Minggu, 8 Februari 2026, di akhir perayaan Misa Pertama Minggu, di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Panitia Tahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro melakukan peluncuran buku kenangan tahbisan sebagai bagian dari rangkaian perayaan yang menandai babak baru kepemimpinan di Keuskupan Larantuka.
Peluncuran dilakukan langsung oleh Ketua Panitia Tahbisan Uskup Larantuka yang juga Deken Larantuka, RD. Adeodatus Hendrikus Leni, Pr. Hadir pada imam, biarawan, biarawati dan jlBupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen serta umat.
Buku berjudul Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes: Kenangan Tahbisan Uskup Larantuka Mgr. Yohanes Hans Monteiro akan menjadi warisan intelektual dan spiritual yang merangkum visi teologis, perjalanan panggilan, serta harapan Keuskupan Larantuka dibawah kepemimpinan Sang Gembala baru.
Peluncuran ini menjadi tradisi reflektif yang mengajak umat untuk merenungkan makna pelayanan episkopal dalam konteks lokal, sebuah momen untuk menyimak narasi rohani yang mengikat komunitas dalam satu tubuh, satu roh, dan satu harapan.
Momentum ini diharapkan menjadi kesempatan bagi umat untuk mendalami gagasan-gagasan yang akan mengarahkan kepemimpinan Mgr. Yohanes Hans Monteiro menjelang puncak ritus tahbisan pada 11 Februari, sekaligus memperkuat ikatan umat Keuskupan Larantuka dalam persiapan menyambut gembala baru.
Kehadiran buku ini diharapkan menjadi sumber inspirasi, bahan dialog teologis, dan pegangan pastoral bagi umat serta para pelayan gereja dalam menapaki tantangan pastoral ke depan.
Tulisan-tulisan di dalamnya membentuk mosaik narasi yang memperlihatkan bagaimana seorang anak nagi ditempa dalam kesederhanaan, doa, dan solidaritas keluarga, lalu dipanggil menjadi gembala umat dengan visi kesatuan, Roh, dan pengharapan.
RD. Anselmus Wedo Liwun menelusuri riwayat hidup Hans Monteiro sejak masa kecil hingga studi lanjut di Austria, menegaskan bahwa dalam kelemahan fisik ia menemukan kekuatan rohani dan menjadikan liturgi sebagai pusat refleksi teologis.
Ben deRosari melengkapi kisah dengan potret masa kecil Hans yang dibentuk oleh doa keluarga, permainan sederhana, dan solidaritas lingkungan, yang menumbuhkan tanggung jawab serta keberanian.
RD. Anthonius Londa Diaz Tonggo mengisahkan perjalanan panggilan Mgr. Yohanes Hans Monteiro, dari seorang seminaris yang rapuh secara fisik bagaikan “bejana tanah liat” menjadi Uskup Larantuka yang tangguh berkat kasih karunia Allah. Melalui transformasi spiritual dan intelektual yang luar biasa, terpilihnya beliau pada Tahun Yubileum 2025 menjadi simbol kekuatan dalam kelemahan yang mempersatukan umat menuju satu pengharapan iman yang tidak mengecewakan.
Sementara itu, RD. Alfonsus Payong Wungubelen menegaskan bahwa terpilihnya Hans sebagai uskup adalah karya Allah, menjadikannya pelayan Kristus yang menghadirkan kesatuan dan harapan, sekaligus ditantang membangun Gereja yang inklusif dan kreatif.
Selanjutnya, RD. Martinus Kapitan Sogen merefleksikan sukacita komunitas Sesado atas terpilihnya Mgr. Dr. Yohanes Hans Monteiro, Pr. sebagai Uskup Larantuka di tengah tantangan pasca-erupsi Lewotobi. Sebagai alumnus dan mantan formator, Mgr. Hans membawa visi Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes untuk mempersatukan umat dan memperkuat masa depan pendidikan calon imam di lokasi baru, Mulalia. Baginya, pengangkatan sang “Anak Hokeng” ini merupakan simbol harapan dan keteguhan iman bagi keberlanjutan regenerasi pelayan Gereja di wilayah tersebut.
Bagian pertama karya ini ditutup dengan dua artikel kenangan bersama Mgr. Hans di tanah rantau, Wina Austria. RD. Laurentius Y. Rota berkisah tentang Mgr. Yohanes Monteiro selama di Wina, yang menonjolkan kerendahan hati dan kepiawaian beliau dalam membangun persatuan di tengah kemajemukan melalui pelayanan di komunitas KKIA.
Keberhasilan intelektualnya dalam meneliti tradisi Semana Santa serta pengabdiannya di paroki-paroki lokal menunjukkan karakter gembala yang mampu menjembatani budaya dan agama. Pengalaman tersebut menjadi akar kuat bagi moto kegembalaan beliau sebagai Uskup Larantuka, yang mencerminkan semangat persatuan dan ketangguhan seorang “Wina sejati” yang tidak pernah menyerah.
Sementara itu, RD. Petrus Bine Saramae berkisah tentangnya melalui sejumlah foto yang sempat diabadikannya selama di sana. Baginya, kisah di tanah rantau Austria adalah perjalanan persaudaraan dan perjuangan akademik mereka sebagai imam mahasiswa yang mengabdi di Keuskupan Agung Wina.
Di tengah pelayanan umat dan gemblengan studi di Universitas Wina, mereka bertumbuh hingga akhirnya sejarah indah ini berujung pada syukur yang mendalam: terpilihnya Mgr. Yohanes Hans Monteiro sebagai Uskup Larantuka, sebuah kehormatan yang menyempurnakan kenangan kebersamaan mereka dari masa studi hingga menjadi pelayan Tuhan.
Bagian kedua berisikan refleksi pastoral, teologis dan hukum yang hadir melalui sejumlah artikel. RD. Yoseph da Silva menyoroti warisan kepemimpinan Mgr. Fransiskus Kopong Kung dengan KBG transformatif, serta RD. Bernardus Belawa Wara yang mengaitkan moto episkopal dengan Amoris Laetitia, menegaskan keluarga sebagai fondasi kesatuan iman. Refleksi ini menunjukkan kesinambungan visi kegembalaan Gereja Larantuka yang berakar pada partisipasi umat dan kekuatan keluarga sebagai “gereja kecil”.
Dengan demikian, KBG transformatif dan keluarga Kristiani sama-sama menjadi ruang nyata bagi terwujudnya Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes. Keduanya menegaskan bahwa kesatuan tubuh Gereja hanya dapat bertahan bila Roh Kudus menghidupkan iman umat dan pengharapan terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari.
Artikel dari Tim Sekpas Keuskupan Larantuka menganalisis transformasi pastoral bagi pekerja migran melalui integrasi visi teologis Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes dan hasil strategis PERPAS XII Nusra. Melalui sinergi lintas batas antara Keuskupan Regio Nusra dan Sabah, Gereja beralih dari sekadar wacana menuju solusi praktis yang mencakup perlindungan sakramental, advokasi hukum, serta pemberdayaan ekonomi migran.
Artikel ini menyimpulkan bahwa penguatan kolaborasi antara institusi gerejawi, pemerintah, dan masyarakat sipil merupakan langkah krusial untuk menjamin martabat manusia dan menghadirkan harapan nyata bagi kaum perantau dalam semangat sinodalitas.
Selanjutnya, Sr. Maria Luciani, PRR dan Sr. Hermania Bhoki, CIJ sama-sama menulis dalam semangat yang berakar kuat pada moto episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro: Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes.
Ziarah iman Kongregasi Puteri Reinha Rosari yang digambarkan Sr. Maria Luciani menunjukkan bagaimana kesederhanaan hidup para suster menjadi bagian dari Unum Corpus, tubuh Gereja yang utuh, yang digerakkan oleh Unus Spiritus, Roh Kudus yang memelihara dan menuntun mereka, serta diarahkan pada Una Spes, pengharapan transformatif yang melampaui batas geografis hingga lintas benua.
Sementara itu, refleksi Hermania Bhoki tentang ekologi integral menegaskan bahwa pendidikan Katolik harus berakar pada kesadaran akan ciptaan sebagai bagian dari tubuh yang sama, digerakkan oleh Roh Kudus yang memperbarui bumi, dan ditopang oleh pengharapan akan masa depan yang berkelanjutan.
Dengan demikian, kedua tulisan ini memperlihatkan bagaimana moto episkopal Mgr. Hans bukan sekadar semboyan, melainkan bingkai teologis yang nyata dalam praksis hidup bakti dan pastoral Gereja Larantuka: kesatuan dalam keberagaman, daya hidup Roh Kudus, dan pengharapan yang tidak mengecewakan.
Dimensi kegembalaan episkopal ditegaskan oleh RP. Puplius M. Buru, yang melihat uskup sebagai pelayan kesatuan umat sekaligus penjaga iman apostolik yang diwariskan sejak para rasul. P. Leo Kleden, SVD menjelaskan bahwa kepemimpinan pastoral Mgr. Yohanes Hans Monteiro di Keuskupan Larantuka berlandaskan pada peran sebagai inspirator, koordinator, dan administrator yang melayani.
Berpedoman pada figur Yesus sebagai Gembala Baik, kepemimpinan ini bukan sekadar urusan organisasi, melainkan sebuah panggilan rohani untuk menyatukan umat dalam kasih dan pelayanan total. Esensi utamanya adalah mewujudkan moto “Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan” melalui semangat sinodalitas yang partisipatif.
RD. Guidelbertus Tanga menambahkan bahwa kesatuan itu harus dirawat dalam keberagaman melalui dialog, solidaritas, dan keterbukaan, sehingga Gereja sungguh hadir sebagai tubuh Kristus yang hidup.
RD. Paulus Pati Lewar mengaitkan kepemimpinan Musa dalam eksodus dengan visi kegembalaan Mgr. Hans, menegaskan bahwa seorang pemimpin Gereja harus berakar pada iman yang teguh dan pengharapan yang kokoh. Refleksi biblis ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan rohani bukan sekadar administratif, melainkan ziarah iman yang menuntun umat menuju janji keselamatan.
RD. Albertus Dedon menempatkan Ekaristi sebagai pusat kehidupan Gereja, sumber rohani yang mempersatukan umat dengan Kristus dan satu sama lain. Dengan demikian, kesatuan umat, keberagaman budaya, teladan kepemimpinan Musa, dan kekuatan Ekaristi berpadu menjadi fondasi kegembalaan episkopal yang selaras dengan moto Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes.
RD. Philip Ola Daen menghadirkan kajian yuridis-kanonis dengan menegaskan bahwa otoritas uskup adalah bentuk pelayanan (ministerium), bukan kekuasaan absolut. Sebagai pengganti para rasul, uskup mengemban tugas mengajar, menguduskan, dan memimpin umat Allah yang diterima melalui sakramen tahbisan episkopal.
Karakteristik otoritas ini mencakup kasih pastoral, kolaborasi kolegial, serta semangat subsidiaritas yang menghormati martabat dan peran seluruh umat beriman. Seluruh pelaksanaan tugas ini bermuara pada satu tujuan utama, yakni pelayanan demi keselamatan jiwa-jiwa (salus animarum).
Peristiwa tahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro dimaknai sebagai simbol harapan dan kesatuan yang mendalam bagi Gereja lokal melalui sinergi pemikiran dalam empat artikel penutup.
RP. Otto Gusti Nd. Madung menekankan fondasi spiritual kegembalaan dan Melkior Koli Baran mendorong perwujudan “Gereja Transformatif” melalui penguatan Komunitas Basis Gerejani (KBG) dan aksi nyata di medan sosial.
Fr. Alfonsius Hada Boruk mengharapkan melalui bimbingan Sang Gembala Baru, para imam muda dan frater diharapkan mampu mengintegrasikan aspek emosional, spiritual, intelektual, dan pastoral demi pelayanan yang lebih peka, rendah hati, dan unggul dalam menjalankan program pastoral keuskupan.
Di sisi lain, RD. Inno Koten mengeksplorasi tahbisan uskup di Keuskupan Larantuka sebagai peristiwa hermeneutik yang menempatkan sastra sebagai locus theologicus alternatif.
Dan, Anselmus DW Atasoge menyoroti pentingnya integrasi antara iman dan budaya lokal. Perpaduan visi ini menegaskan bahwa kepemimpinan baru Keuskupan Larantuka harus mampu menjembatani tradisi dengan tantangan zaman secara profetis, sehingga Gereja tidak hanya hadir sebagai institusi ritus, tetapi juga sebagai agen perubahan yang relevan dalam aspek ekonomi, politik, dan pendidikan bagi masyarakat di Flores Timur dan Lembata.
Keseluruhan tulisan ini membentuk jalinan narasi yang utuh: perjalanan seorang anak sederhana yang dipanggil menjadi gembala, refleksi pastoral dan teologis yang meneguhkan, serta syukur atas karya Allah yang menghadirkan pemimpin baru bagi Gereja Keuskupan Larantuka.
Dengan moto Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes, bunga rampai ini mengajak umat untuk melihat bahwa Gereja tumbuh dari sejarah, dipersatukan oleh Roh Kudus, dan diarahkan pada pengharapan akan Kerajaan Allah.
Tulisan-tulisan dalam buku ini mengintegrasikan pengalaman personal yang mendalam dengan wawasan akademik teoretis ke dalam praktik pastoral di tengah umat dan masyarakat.
Karya ini merekam dialektika antara aspek intelektual dan sisi kemanusiaan Mgr. Yohanes Hans Monteiro yang diwujudkan melalui pelayanan nyata dengan menghargai kekhasan budaya lokal Larantuka sebagai pusat teologi yang hidup.
Integrasi ini di satu sisi merupakan pertemuan antara teori dan aksi, dan di sisi lain merupakan sebuah upaya menyelaraskan teologi dengan realitas iman serta harapan umat di wilayah Keuskupan Larantuka. Melalui pendekatan ini, tercipta sebuah harmoni yang menyatukan nilai-nilai gerejawi dengan konteks kehidupan sehari-hari masyarakat.
Buku ini merupakan sebuah karya bunga rampai yang menghimpun mosaik pemikiran, kesaksian, dan analisis sosiopastoral dari berbagai kalangan. Melalui pendekatan interdisipliner, para penulis mengeksplorasi makna mendalam di balik motto episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro, yakni “Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan” yang disadur dari Efesus 4:4.
Karya ini berupaya menyatukan dialektika antara kerapuhan manusiawi sang uskup di masa muda dengan kecemerlangan intelektual yang beliau asah selama menempuh studi doktoral di Universitas Wina, Austria. Integrasi tersebut membentuk profil kepemimpinan yang holistik: seorang gembala yang mampu menjembatani misteri liturgi dengan realitas konkret kehidupan umat.
Karya bunga rampai ini di satu sisi merekam sejarah transisi kepemimpinan dari Mgr. Fransiskus Kopong Kung kepada Mgr. Yohanes Hans Monteiro, dan di sisi lain juga menawarkan arah baru bagi praksis pastoral di Keuskupan Larantuka. Isu-isu krusial seperti penguatan Komunitas Basis Gerejani (KBG), advokasi bagi pekerja migran, hingga urgensi ekologi integral dalam terang ensiklik Laudato Si’ menjadi pembahasan sentral dalam bunga rampai ini.
Penekanan pada aspek-aspek tersebut menunjukkan bahwa tugas kegembalaan episkopal melampaui urusan administratif gerejawi; ia mencakup komitmen untuk merawat martabat manusia dan keutuhan ciptaan.
Secara teologis, kehadiran buku ini dipandang sebagai sebuah ‘kairos’, yakni momen rahmat yang mengundang umat untuk berjalan bersama dalam semangat sinodalitas.
Pengharapan yang diusung dalam motto sang uskup bukanlah optimisme dangkal, melainkan daya penggerak transformatif untuk menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks.
Melalui literatur ini, Gereja Larantuka diajak untuk terus menjadi komunitas yang inklusif dan solider, yang mampu menyelaraskan tradisi iman dengan konteks budaya lokal sehingga agama tetap relevan sebagai agen perubahan sosial yang nyata.*
Sie Komsos dan Publikasi Panitia Tahbisan Uskup Larantuka.
Rita Senak SE, Infozone









