Lewoleba, Infozone | Terjadi kelangkaan bahan bakar minyak ( BBM ) jenis Pertalite dan Pertamax beberapa hari terakhir di wilayah kota Lewoleba Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kamis 22 Januari 2026.
Kondisi ini jadi keluhan warga, selain sulitnya memperoleh BBM di SPBU maupun pengecer, harga di tingkat penjualan eceranpun melonjak jauh di atas HET. Salah seorang warga penjual BBM eceran di seputaran Kelurahan Selandoro (38) mengaku hal itu. Menurutnya karena tidak masuknya kapal pemasok.
“BBM sulit di dapatkan karena kapal Minyak dari Kabupaten Larantuka belum masuk di pelabuhan Lewoleba. Untuk bisa mendapatkan penuh perjuangan antrian panjang hingga pada kendaraan roda dua,” Urainya kepada Awak Media kamis 22 Januari 2026.
Hal senada juga diungkapkan warga lainnya, Kepada Wartawan Infozone, akibat kelangkaan tersebut Ianya membeli BBM dengan harga Rp 35 perliter.” Kami terpaksa harus membeli BBM jenis Pertalite Rp35 ribu per liter,”Ujar Novi.
Novi Curhat, minta Bupati Lembata berikan perhatian soal langka dan tingginya harga BBM di daerah tersebut. Ia meminta jangan hanya sekedar ceremonial.
“Kami di Lembata ni terlalu susah mendapatkan BBM hanya untuk keperluan dalam kendaraan sendiri saja sulit, kami minta pemerintah Kabupaten Lembata tolong urus BBM yang benar biar kami masyarakat Lembata jangan kesulitan untuk mendapatkan BBM. Bapak Bupati jangan urus kegiatan Ceremonial saja tapi tolong pikirkan kami masyarakat kecil ini,”Tuturnya dengan nada Kecewa.
“Kalau kami dapat beli itu juga harga tidak masuk akal, Itu pun dalam waktu setengah jam kami berebutan dengan Konsumen lain hanya untuk dapatkan BBM sehingga kendaraan pribadi dapat beroperasi. Itupun langsung habis,”Ungkap warga bernama Rini, pula.
Ditempat terpisah seorang pengecer yang ditemui awak media di lokasi penjualan mengatakan bernama Piter mengungkapkan dirinya menjual Pertalite seharga Rp35 ribu per liter (Ukuran setengah botol Aqua besar) Kalau penuh ukuran satu botol Aqua besar itu ukuran 2 liter ya hitungnya 70 ribu.
Kami jual begini karena BBM sampai saat ini belum masuk, Kami menunggu BBM yang diseberangkan dari Kabupaten Flores Timur masuk ke Kabupaten Lembata dulu baru kami antri di SPBU dan menjual lagi kepada konsumen yang membutuhkan. Piter juga akui dirinya baru menjual BBM Karena bisa membantu ekonomi keluarga, kalau kami tidak berjuang antri beli dan jual lagi kami mau makan pakai apa,”Urainya singkat
Keluhan juga datangnya dari warga yang kesehariannya Pengemudi ojek, pemilik kendaraan roda dua, hingga pedagang kecil mengaku pendapatan harian mereka tergerus akibat mahalnya harga BBM.
Intinya, Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait, termasuk Pertamina, segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan distribusi BBM serta melakukan pengawasan ketat terhadap penjualan di tingkat eceran.
Ketergantungan terhadap pasokan BBM dari luar daerah lewat jalur laut dinilai sangat rentan juga terhadap hambatan logistik dan menjadi pemicu kelangkaan BBM tersebut.
Terakhir, Sampai berita ini di turunkan Pemerintah Kabupaten Lembata belum mengambil langkah konkret terhadap kelangkaan BBM dan segera tindak tegas Pengecer Nakal di Kabupaten Lembata.
Sejauh ini pantauan Wartawan di lokasi Kabupaten Lembata masih kesulitan mendapatkan BBM yang dapat di jangkau sesuai HET.
Rita Senak SE Infozone melaporkan









