JAKARTA, Infozone – Lestari Moerdijat: Sumpah Pemuda harus jadi landasan generasi muda jawab tantangan zaman. Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengajak generasi muda menjadikan semangat Sumpah Pemuda sebagai landasan untuk menjawab tantangan zaman, menjaga persatuan, dan berkontribusi bagi bangsa.
Menurutnya, nilai kebangsaan yang lahir dari ikrar 1928 hanya bermakna jika diamalkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar seremoni tahunan.
“Pergerakan pemuda 1928 melahirkan kesadaran berbangsa yang menjadi fondasi NKRI. Nilai itu harus terus hidup, bukan berhenti sebagai upacara,” kata Lestari Moerdijat dalam keterangan resmi menyambut Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu (28/10/2026).
Peringatan tahun ini mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia.” Tema tersebut menekankan tiga karakter yang diharapkan tumbuh dalam diri generasi muda.
Rerie, sapaan akrab Lestari, mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini berbeda dari masa pergerakan 1928. Tekanan yang muncul bukan lagi penjajahan fisik, melainkan ancaman terhadap kohesi sosial, seperti polarisasi di ruang digital, disrupsi ekonomi, dan godaan kepentingan sempit yang berpotensi memecah persatuan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Pemuda Indonesia 2025 mencatat jumlah pemuda Indonesia mencapai 66,83 juta jiwa, atau sekitar 23,5% dari total penduduk.
“Di tangan generasi muda negara ini bisa terus ada. Sebaliknya, di tangan generasi muda pula negara ini bisa jadi tinggal cerita,” ujar politikus Partai NasDem itu.
Tantangan: Literasi Digital dan Polarisasi
Rerie menyoroti bahwa tantangan terbesar generasi muda bukan hanya soal kesempatan ekonomi, tetapi juga kemampuan menjaga nalar kebangsaan di tengah derasnya arus informasi.
“Belajar dari Sumpah Pemuda 1928, gagasan besar lahir dari para pemuda. Generasi hari ini harus mampu berperan aktif menentukan arah pembangunan, bukan sekadar menonton,” kata Anggota Komisi X DPR RI ini.
Ia menekankan pentingnya penguatan literasi digital dan karakter kebangsaan sejak dini. Menurutnya, kemampuan teknologi yang dimiliki pemuda harus diarahkan untuk membangun persatuan dan memperkuat budaya bangsa, bukan memperlebar jurang perpecahan.
Kebijakan Kepemudaan Harus Berdampak Nyata
Legislator dari Daerah Pemilihan II Jawa Tengah itu juga mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat sipil, hingga keluarga, dalam merancang kebijakan kepemudaan yang berbasis data dan berdampak nyata.
“Kebijakan kepemudaan harus berpihak pada kebutuhan nyata. Bukan hanya program yang terdengar bagus di atas kertas, tetapi yang bisa dirasakan manfaatnya oleh pemuda di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Menurut Rerie, Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa persatuan bukanlah keseragaman, melainkan kesediaan untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan kelompok.
“Pemuda yang patriotik adalah yang mampu mencintai bangsanya dengan cara bekerja sungguh-sungguh, berpikir kritis, dan peduli pada sesama. Itu wujud Sumpah Pemuda hari ini,” pungkas Rerie.
Sumber : mprri go.id







