Foto: Tangkapan LayarÂ
ROKAN HILIR, Infozone – Di tengah gemerlapnya produksi minyak Blok Rokan dan hamparan sawit yang menjadi penyumbang devisa negara, sebuah video memilukan datang dari ujung pesisir Rokan Hilir.
Inilah kondisi SMP Satu Atap di Kecamatan Sinaboi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Video yang direkam pada 6 Oktober 2026 itu memperlihatkan puluhan siswa berseragam putih-biru duduk di dalam kelas yang lebih mirip gubuk.
Atap seng berlubang di ratusan titik. Cahaya matahari masuk menyilaukan, pertanda jika hujan turun, air akan mengguyur buku dan meja mereka. Dindingnya hanya papan kayu hijau yang sudah lapuk dan ditambal jaring. Lantai papan kayu basah dan licin saat video kedua menunjukkan hujan deras mengguyur hingga ke dalam kelas, menggenangi meja-meja yang dibungkus kain batik.
Lebih miris, dalam video lain yang beredar, seorang warga merekam sambil berteriak:
“Apa kabar Pemerintah Rokan Hilir, apa kabar warga Rokan Hilir. Ceritanya kemarin bapak Wakil Presiden bapak Gibran turun ke Bagansiapiapi, kenapa ini sekolah tidak ditinjau, ada apa dengan dinas terkait.”
Tangis Orang Tua: Kami Siap Bawa Seng Sendiri
Curhatan seorang orang tua murid yang merekam video itu begitu menyayat hati:
“Selamat malam di hari Jumat yang berkah… anak saya di sini belajar menimba ilmu. Anak kami butuh tempat nyaman belajar, layak sekolah seperti yang lain, tidak terganggu sinar matahari, tidak kena hujan… sampai-sampai anak saya menangis kasihan kawan-kawan saya, bapak saya pun jadi ikut merasakan. Tolong bantu Bapak / Ibu, kalau tak mau membantu biar kami besok orang tua murid gotong royong sama-sama dan orang tua membawa seng masing-masing dan papan masing-masing biar kami bangun.”

Pernyataan itu adalah tamparan keras. Di kabupaten yang PDRB-nya ratusan triliun dari minyak, sawit, dan perikanan internasional, orang tua harus siap membawa seng dan papan dari rumah sendiri agar anaknya bisa belajar.
Ironi di Negeri Kaya
Ini bukan kali pertama. Kondisi ini sudah hampir bertahun-tahun dibiarkan. Padahal Rokan Hilir baru saja dinobatkan sebagai kabupaten termiskin ketiga se-Riau dengan 55 ribu jiwa lebih penduduk miskin. Kemiskinan fasilitas pendidikan adalah wajah paling jujur dari kemiskinan struktural itu.
Pertanyaannya, mau sampai kapan anak-anak Sinaboi yang berada di perbatasan negeri ini harus belajar dalam kubangan air hujan? Tahun akan segera berganti, APBD akan diketuk lagi. Apakah sekolah ini akan kembali dilewatkan?
Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir, Dinas Pendidikan Riau dan Rohil, serta para wakil rakyat yang duduk di DPRD, video ini adalah aduan langsung dari rakyatmu. Mereka tidak minta gedung mewah, mereka hanya minta kelayakan.
Jangan biarkan tangis anak Sinaboi menjadi kutukan bagi negeri yang katanya Gemah Ripah ini.
Catatan Redaksi : Hingga berita ini ditayangkan belum terkonfirmasi informasi tanggapan pihak terkait atas beredarnya video tersebut.Â
Sumber : narasi dan video yang beredar dalam grup WhatsApp Rokan Hilir







