Trump Sinyalkan Serang Iran Lagi Usai Pemilu Sela AS, Benarkah?

Doha, Infozone – Presiden AS Donald Trump menyebut tidak akan menyerang Iran lagi sebelum Pemilu Sela (Midterm) AS pada 3 November 2026. Namun laporan media AS menyebut Pentagon justru sudah siapkan rencana serangan sebelum pemilu.

Dilansir Al Jazeera, Jumat (9/10/2026), Trump menulis di Truth Social bahwa AS tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum Midterm.

Bacaan Lainnya

“Saya ingin jelaskan ke semua orang bahwa, meski Iran dalam kondisi sangat buruk… kita tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum Pemilu Sela,” tulis Trump.

Trump mengklaim AS sedang dalam diskusi produktif dengan Iran. Namun hal serupa juga terjadi pada 28 Februari lalu, saat AS dan Israel pertama kali menyerang Iran justru ketika perundingan masih berlangsung.

Media AS seperti The New York Times, Wall Street Journal, Axios, dan The Atlantic melaporkan dalam 2 hari terakhir, Pentagon telah diperintahkan untuk menyiapkan operasi tempur besar-besaran. Axios menyebut Komando Pusat AS (CENTCOM) diminta siap tempur kapan saja.

Kenapa Trump Ragu Serang Sebelum Pemilu?

Perang AS-Israel vs Iran sangat tidak populer di AS. Harga bensin, makanan, dan kebutuhan pokok melonjak karena krisis Timur Tengah.

Jajak pendapat Pew Research Center yang rilis Kamis (9/10) menyebut 65% warga AS tidak setuju dengan cara Trump menangani perang Iran. Trump awalnya janji perang hanya beberapa minggu, namun kini sudah masuk bulan ke-8.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos juga menyebut hanya 30% pendukung Trump yang antusias untuk memilih di midterm, berbanding 48% pemilih Demokrat. Sekitar 13% pemilih Trump 2024 bahkan ragu mau pilih siapa di pemilu kongres.

Analis menilai, menunda serangan hingga usai pemilu bisa lindungi kandidat Partai Republik dari amarah pemilih. Jika Republik kalah, Trump yang tidak bisa maju lagi di Pilpres selanjutnya justru bisa lebih bebas untuk kembali menyerang Iran.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump mengancam akan “mengakhiri” perang dengan kekuatan setelah pemilu. Di konvensi Republik September lalu ia menyebut konflik akan berakhir segera setelah pemilu.

Pekan lalu, militer AS mengirim sekitar 7.000 pelaut dan 2.000 Marinir dengan kapal induk USS Theodore Roosevelt ke Timur Tengah. Total pasukan AS di kawasan kini mencapai 20.000 personel, ratusan pesawat, dan setidaknya tiga gugus tugas kapal induk.

Sebelumnya, gencatan senjata yang ditandatangani Washington dan Teheran pada Juni 2026 cepat runtuh karena sengketa kontrol Selat Hormuz.

 

Sumber:  Al Jazeera.com

 

Pasang Iklan di Infozone - 5000+ pembaca

👆 Klik untuk Pasang Iklan - Mulai 5.000+ / hari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *