RIYADH, INFOZONE – Konflik di Yaman kembali memanas hebat. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah melancarkan serangan rudal balistik dan drone ke fasilitas minyak Aramco di dekat ibu kota Arab Saudi, Riyadh, yang menyebabkan kebakaran besar.
Namun klaim tersebut langsung dibantah mentah-mentah oleh koalisi pimpinan Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, menyebut klaim Houthi tersebut “menyesatkan”. Pernyataan tersebut dimuat di media Saudi Asharq Al-Awsat pada Sabtu (4/10/2026) malam.
Menurut al-Maliki, Houthi “berupaya mengalihkan perhatian dari besarnya kerugian dan kemarahan publik yang meningkat terhadap mereka”.
Di sisi lain, pasukan pemerintah Yaman mengklaim berhasil melakukan operasi besar-besaran.
Juru bicara pasukan pemerintah Yaman, Kolonel Majed Abdullah al-Nazili, mengatakan pasukan Yaman “melakukan 257 operasi penargetan presisi” terhadap situs, pergerakan, dan kemampuan militer Houthi pada hari Sabtu.
“Perkiraan awal menunjukkan operasi tersebut menewaskan sedikitnya 700 pemberontak Houthi,” ujarnya.
Pada Minggu (5/10) dini hari, koalisi pimpinan Saudi juga mengatakan telah melakukan 97 “operasi penargetan presisi” terhadap bala bantuan Houthi di front Tor al-Baha dan poros Taiz, menggunakan pesawat tempur, drone, artileri, rudal, dan penembak jitu.
Pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman diketahui semakin intensif sejak gencatan senjata rapuh tahun 2022 runtuh pada Juli 2026 lalu, yang telah membuat ratusan ribu orang mengungsi.
Pada pertengahan September lalu, Houthi sempat merebut kota pelabuhan Mocha dan pulau-pulau strategis di Selat Bab al-Mandeb, jalur vital untuk pengiriman minyak global, sebelum pasukan anti-Houthi berhasil menstabilkan garis depan.
Yaman sendiri telah berada dalam perang sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa pada tahun 2014.
Sumber: Al Jazeera







