Pada foto, sejumlah anak bermain congklak di Kampung Pekijing, Kota Serang, Banten, Sabtu (4/4/2026). Kegiatan lapak baca dan permainan tradisional yang rutin diselenggarakan pada Sabtu-Minggu dan diinisasi oleh pemuda setempat tersebut menjadi wujud nyata dukungan warga terhadap Peraturan Pemerintah (PP) Tunas terkait pembatasan media sosial pada anak, sekaligus dinilai efektif dalam menekan kecanduan gawai. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Infozone, Jakarta | Pemerintah mulai mengintegrasikan program PP Tunas dengan penguatan literasi melalui penyediaan ruang bermain aktif yang bebas dari paparan media sosial. Dalam realisasinya, anak-anak didorong untuk terlibat dalam permainan luar ruang dan aktivitas fisik yang melatih motorik serta ketangkasan tanpa ketergantungan pada layar digital. Langkah ini bertujuan untuk mengasah fokus dan konsentrasi anak, sehingga mereka lebih siap menyerap informasi dan memiliki ketahanan mental yang lebih kuat dalam melakukan aktivitas literasi dasar seperti membaca dan bercerita secara lisan.
Selain aspek fisik, kegiatan bermain ini difokuskan pada pengembangan literasi sosial melalui interaksi antar-teman sebaya secara langsung. Dengan bermain bersama dalam simulasi permainan kelompok, anak-anak belajar memahami instruksi, bernegosiasi, dan memecahkan masalah secara kolektif tanpa distraksi dunia maya. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun kembali ekosistem bermain yang sehat di lingkungan sekolah, di mana kecerdasan emosional dan kemampuan berbahasa anak tumbuh secara alami melalui komunikasi tatap muka yang intens.
Sumber : Indonesia go id









