Paskah: Perspektif Anamnestik  dan Antisipatorik

Ancaman yang paling mengerikan dan melumpuhkan setiap orang dan setiap komunitas agama, adalah saat kita tidak berani keluar dari kepentingan diri, dari ketersinggungan atau rasa sakit hati kita.  

Perayaan Paskah adalah tindakan anamnestik gereja untuk membebaskan manusia dari penyakit homo incurvatis,  manusia yang melengkung di dan ke dalam dirinya sendiri untuk ”bangkit kembali” menjadi pribadi utuh yang penuh rekonsiliasi sebagai tanggungjawab iman.

Bacaan Lainnya

Kenangan Kolektif

Agama tidak hidup hanya pada level mistik, melayang di atas awan. Misi suci agama hanya bermakna kalau diwartakan di atas bumi yang tidak merata , yang penuh lubang, batu dan lumpur, dunia yang berluka. Karena itu Allah orang Kristiani turun ke jalan-jalan Palestina, menyerukan supaya manusia jangan lari dari dunia melainkan merangkul manusia agar “lari bersama dunia” menuju Kerajaan Allah, yaitu antisipatorik dari Kerajaan Allah di dunia ini.  

Agama Kristen (dalam prespektif saya: Gereja Katolik) adalah sebuah agama pengenangan (anamneses) yang berpusat pada peristiwa Yesus, khususnya wafat dan kebangkitanNya. Setiap hari dalam misa,  umat Katolik mengucapkan kidung anamnesik ini: “WafatMu kami kenangkan, kebangkitanMu kami wartakan, kedatanganMu kami rindukan.” 

Menggunakan bahasa fisika, inilah inti atom yang mengikat dan mengatur seluruh kehidupan gereja. Perspektif anamnestik ini dihadirkan secara hidup dan dihayati oleh seluruh umat dalam hidup mereka sehari-hari, dalam keyakinan dasar mereka,  juga dalam religisitas populernya.  

Menghidupkan memori kolektif juga sebuah upaya untuk membangun nurani kolektif menjadi warga negara yang membangkitkan bangsa.  Seorang Katolik yang baik adalah juga seorang warga negara yang baik. Kita tidak bisa mengatakan JB itu seorang Katolik yang baik tapi seorang warga negara yang buruk. “Seratus persen Katolik, seratus persen Indonesia “, adalah tanggungjawab iman. 

Memoria Passionis

Tuhan yang menderita merupakan konsep revolusioner yang dibawa oleh agama Kristen. Dalam budaya yang sangat mengandalkan kekuasaan memang tidak gampang mengimani Allah yang menderita. Tidak heran kalau banyak muridNya kemudian pergi meninggalkanNya. 

Namun itulah keyakinan iman krisitiani. Tuhan yang memahami penderitaan manusia, yang mengambil luka manusia menjadi lukaNya adalah Tuhan yang Rahim. Dengan melihat dan tunduk di hadapan Tuhan yang tersalib dengan kepalaNya yang berluka, umat Kristiani menerima bahwa Tuhan terluka bersama dunia dan umat manusia. (Paul Budi Kleden, SVD, teolog kontemporer Indonesia yang menekankan “teologi terlibat” membuat ulasan yang menarik tentang ini dalam bukunya, Membongkar Derita, Teodice: Kegelisahan Filsafat dan Teologi, 2006).

Dalam perspektif ini kita membaca refleksi Jürgen Moltmann dalam karyanya, The Crucified God (1973) , yang melihat salib sebagai “monumen” untuk mengungkapkan keberatan permanen terhadap berbagai keprihatinan manusia. Salib adalah tentang keberpihakan Yesus terhadap orang-orang kecil terutama yang tertindas. 

Karena itu sebuah teologi salib musti harus membebaskan manusia dari pelayanan “berhala” yang menojolkan keagungan diri. Radikalitas Paskah sebagai satu momen pembalikan hanya dapat dihayati apabila orang tidak melupakan peristiwa salib.

Ideologi Amnesia

Kesaksian tentang Yesus yang bangkit tidak mengesamping luka-lukaNya. Yesus yang bangkit,  menampakkan diri dengan luka-lukaNya. Pelukisan ini memaklumkan kesadaran bahwa tidak ada orang yang bisa bebas dari keterlukaan. Setiap kita punya luka, entah kelihatan atau tidak, entah diakui atau ditutupi. Yesus yang bangkit bersama luka-lukaNya hendak mewartakan kepada kita untuk tidak takut mengakui bahwa kita pun terluka, atau sekurang-kurangnya pernah terluka. 

Dalam sebuah diskusi “Angkatan Ledalero 85 Terlibat”, tentang ‘Keterlukaan dan Kerahiman: Realitas Manusia-Solidaritas Tuhan” (2024),  Paul Budi Kleden, SVD,  mengungkapkan amnesia, lupa akan luka masa lampau, seringkali dijual atas nama kemajuan. Ideologi ini dirasukkan pada ranah pribadi, keluarga atau pun bangsa. Bukan mustahil juga, ideologi ini dianjurkan oleh pihak-pihak yang keamanan dirinya terancam apabila luka masa lalu diungkap secara transparan. Sebab mereka membangun kekuasaan dan menebalkan kekayaan mereka dari luka yang telah mereka torehkan pada para korban dan keluarganya. 

Ideologi amnesia serupa tampaknya hendak dipropagandakan untuk generasi Z. Mereka dibuat percaya bahwa mereka tidak perlu hidup dengan memperhatikan masa lalu, dengan merasa terikat pada yang lampau. Mereka adalah generasi selfie, bukan hanya karena kegemaran membuat potret diri sendiri, melainkan karena dikondisikan untuk memberikan perhatian utama pada diri sendiri. 

Survei Indikator Politik (Mei 2025) mencatat hanya 20 persen yang menilai isu HAM sebagai prioritas. Memori penderitaan cenderung meredup, padahal tanpa mengingat korban, demokrasi kehilangan koreksi moralnya.  Ramadhan dalam bukunya “Makam Tanpa Nama dan Iktirar Melawan Amnedi Sejarah” (2022) mengingatkan kita bahwa melupakan sejarah bukan hanya menggerogoti integritas moral dan intelektual, tetapi juga membuka jalan bagi kejahatan di masa depan.   

Habermas (Between Facts and Norms, 1992) , menekankan pentingnya mengolah memori penderitaan sebagai koreksi moral dan dalam The Inclusion of the Orther (1998), ia menegaskan bahwa demokrasi harus membuka diri bagi semua suara, terutama yang terpinggirkan oleh kekuasaan politik. Bangsa yang demokratis tidak akan menyembunyikan luka yang menjadi bagian dari sejarahnya yang kelam. 

Tindakan Antisipatoris

Anamnese spiritual yang direnungkan mulai Minggu Palem hingga Minggu Paskah bukan sekadar sebuah upacara liturgis untuk memperingati penderitaan, kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus Kristus.  Tapi sebuah tindakan emansipatoris dan antisipatoris.

Dengan tema memulihkan martabat kemanusiaan, umat Kristiani diharapkan menjadi agen-agen perubahan yang berdampak. Spirit Paskah adalah pembaruan hidup. Rahmat Paskah menggerakkan umat Kristiani untuk menjadi lebih inklusif, berkolaborasi dengan segenap elemen bangsa, berkontribusi dalam membangun kehidupan bersama yang adil, bermartabat, cerdas, damai, dan sejahtera bagi seluruh manusia Indonesia bahkan bagi kemanusiaan global.

Anamnese memoria pasionis secara menohok merangkum isu krusial tentang conditione humaine hari ini yakni degradasi kemanusiaan dalam praktik dan relasi kekuasaan. Praktik politik  dan kepemimpinan yang terobsesi oleh logika populisme dan emosionalisasi massa sering memanipulasi kemanusiaan dan peminggiran kelompok rentan.  

Kematian Yesus mengingatkan pada korban tak berdaya menghadapi kekuasaan yang mengarahkannya kepada tindak ketidakadilan. Dalam kisah sengsara Yesus, hukuman salib merupakan tindakan politik dari penguasa Romawi dalam meredam pemberontakan. Ini adalah mekanisme untuk menciptakan ketakutan publik. Dalam bentuk modern ia mengambil rupa terror dan intimidasi untuk melahirkan ketakutan yang akut.

Namun, Yesus justru mentransformasi dan mentransendensi makna salib. Salib bukan lagi sarana untuk menciptakan ketakutan, meredam pemberontakan dan simbol kehinaan, melainkan menjadi lambang kemuliaan dan kemenangan. 

Kebangkitan Kristus menegaskan bahwa kemanusiaan tidak boleh dikorbankan demi kekuasaan. Kristus bangkit sebagai korban ketidakadilan negara dan agama, sekaligus mengoreksi model kekuasaan yang menindas. 

On Going Conversion

Mengikuti Jalan Salib Yesus dengan demikian menjadi sebuah mission ad vulnera, perutusan untuk mendampingi dan berjalan bersama dengan mereka yang terluka. Atau karena semua kita adalah juga orang-orang yang terluka, ia juga sebuah mission intervulnera. 

Paskah memang patut dirayakan dengan penuh syukur, tapi mesti juga selalu akrab dengan kenyataan keras dari kaum kecil, yang terluka dan tertindas. Merayakan paskah dalam isolasi dengan para innocent victims hanya akan membuat memoria pasionis menjadi perangsang dari pada suatu sumber ketenangan.

Melampaui pengampunan, kita butuh solidaritas. Seperti Yesus yang mentransformasi salib menjadi instrumen untuk memuliakan manusia, demikian jugalah elite-penguasa (agama dan negara) harus mentransformasi kepemimpinannya sebagai instrumen untuk memuliakan manusia dan kemanusiaan. Kepemimpinan tidak boleh tunduk pada ”berhala-berhala” dalam bentuk  “superioriti diri” yang justeru mencemarkan keluhurannya. Mereka yang ada dalam relasi kuasa kita, tidak boleh ”tersalibkan” dengan cara apapun.

Menghadapi tantangan seperti ini, iman akan kebangkitan dapat menjadi sumber inspirasi bagi semua yang melibatkan dirinya dalam proses pemberdayaan masyarakat, untuk menghadapi berbagai pengalaman kekecewaan dan ketidakpercayaan dari masyarakat. Melalui anamneses Paskah, peran Allah untuk membebaskan manusia dari penderitaan, kita hidupkan untuk kita realisasikan dalam misi dan panggilan kita sebagai orang Kristen di tengah dunia hinc et nunc .  

Bukankah kebangkitan Yesus yang dirayakan pada peristiwa Paskah adalah juga kebangkitan kelompok para murid-Nya? Yesus Kristus yang bangkit, membangkitkan para muridNya. Kebangkitan para murid dari kubur ketakutannya (karena intimidasi imam-imam kepala) menyingkapkan bahwa kekuasaan yang dibangun atas dasar kebiasaan untuk menakut-nakuti, tidak akan bertahan lama.  

“Dieu a besoin des hommes” ungkapan terkenal dari teolog Edward Schillebeeckx. Allah membutuhkan manusia bukan untuk menjadi Allah, tetapi menjadi Allah bagi manusia dalam segala kebebasannNya. Maka dari itu imperialism dan eksklusivisme religious yang mengaku berdasarkan Sabda Injil hanyalah omong kosong belaka. 

Paskah menginginkan kehidupan, mendorong setiap perjuangan untuk menghormati kehidupan. Allah tidak bisa diredusir menjadi fungsi tertentu bagi manusia, masyarakat atau dunia seturut selera kekuasaan  untuk tindakan pembungkaman. 

JB Kleden (Dosen Prodi Kepemipinan Kristen, IAKN Kupang)

Sumber : Kemenag RI.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *